INDEKS PEMBANGUNAN PEMUDA JAWA BARAT 5 TERENDAH

29

Oleh: Agus Sanusi

Di tengah fenomena bonus demografi beberapa tahun ke depan, pembangunan pemuda merupakan agenda strategis yang perlu dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah. Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2030-2040 dimana diprediksi jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Yaitu mencapai sekitar 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.

Sebagai daerah penyangga ibu kota Negara, Jawa Barat mempunya tingkat bonus demografi tertinggi dibandingkan dengan berbagai provinsi lainnya. Saat ini saja penduduk Jabar menyumbang proporsi 20% dari penduduk Indonesia atau 46,53 juta. Apalagi jika ditambah bahwa sejumlah penelitian mengungkapkan bonus demografi di Jawa Barat terjadi lebih cepat

Namun yang terjadi justru cukup mengkhawatirkan. Menjadi daerah penyangga Ibu kota semestinya memberi keuntungan tersendiri bagi Jawa Barat, sebab ada kekuatan konektivitas melalui spillover pertumbuhan. Apa yang terjadi justru tak seperti diharapkan. Selain menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi, Jawa Barat juga menempati posisi 5 terendah dalam indeks pembangunan pemudanya. Dan meskipun angkanya sempat naik, secara peringkat Jawa Barat tidak bergeser artinya akselerasinya sangatlah rendah

Indeks Pembangunan Pemuda Jawa Barat sangat rendah pertama dalam partisipasi dalam organisasi, kedua pemuda yang berwirausaha, ketiga perempuan yang bersekolah menengah dan berpendidikan tinggi, keempat pemuda yang merokok dan pengangguran dan pemuda yang berpendapat dalam masyarakat

Jika kita melihat potensi bonus demografi yang bukan hanya besar namun terjadi lebih cepat. Tentu ini perlu disikapi secara serius dan cepat sebab alih-alih menjadi keunggulan bonus demografi ini justru menjadi bencana.

Sayangnya sampai hari ini jangankan untuk melalakukan akselerasi pemerintah provinsi sendiri belum menunjukan kinerja yang signifikan. Lebih sibuk mengatur orang-orang di dalam dari pada melakukan langkah kerja dengan optimal hal ini terbukti dari rendahnya serapan APBD Jawa Barat 2019 yang baru sekitar 54% dari total 31,7 Triliun

Dalam janjinya Ridwan Kamil sendiri pernah menyinggung Perda Kepemudaan, sekolah SMA gratis dan sejumlah program berbasis kepemudaan. Sampai hari ini publik masih menunggu sebab jangan sampai Jawa Barat hanya jadi lonjakan saja untuk karier politik (jadi presiden) dimana sensasi Ridwan Kamil pada akhirnya mengalahkan esensi dari tugas kepemimpinan Jawa Barat yaitu mensejahterakan dan memajukan masyarakat

#KawalJabar

comments