Idealis tapi tidak realistis

44

memang tidak mudah dan amat sulit untuk menemukan titik fokus sebuah permasalahan. apalagi menentuan sikap dalam masalah tersebut.
apalagi masalah yang sedang mengemuka sudah bercampur aduk, agama, politik, sentimen, kesenjangan, dan lain lain belum lagi tarik menarik kepentingan yang tumpang tindih tak karuan. ditambah lagi informasi, berita, statemen, dalil dalil agama, undang undang dan banyak lagi hal yang sulit dibedakan mana asli mana palsu, mana himbauan mana hasutan, mana motivasi mana provokasi.
masalah yang seedemikian kompleks bagai puluhan atau bahkan lebih gulungan benang kusut yang menggulung gulungan benang lain yang juga kusut, terus dan terus menggulung.
dan sayangnya, kebanyakandari kita saat ini jarang yang berusaha mendalamii permasalahan permasalahan yang terjadi dengan membekali diri dengan ilmu. ya berbagai macam disiplin ilmu, dengan segala aspeknya.
sunni syiah misalnya dalam ranah agama Islam. Banyak yang secara kesusu mengkafirkan, menjahanamkan, mem ‘pokoknya salah’ kan pihak lain hanya berdasarkan ‘mendengar’ fatwa salah satu atau beberapa tokoh, yang menjadi idola kita karena kebetulan statemen tokoh tokoh itu pas dengan jalan pikiran kita. dengan beraninya kita mensejajarkan diri dengan idolanya, tanpa sadar maqamnya; muqollid, muttabi’ atau mujtahid?
padahal, untuk menarik suatu kesimpulan benar tidaknya sebuah aliran dibutuhkan bergudang gudang buku sebagai referensi literatur; sejarah, filsafat sejarah, obyek sejarah, penulisnya, pendapat yang pro maupun kontra, tafsir, ilmu tafsir, fiqih, usul fiqih, hadis, mustolah hadis dan banyak lagi.
padahal ilmu yang dipelajari di atas baru sebatas alat yang digunakan untuk menemukan ujung pangkal benang kusut. ya. baru menemukan ujung pangk benang kusut, belum mengurainya. untuk mengurainya masih memerlukan ilmu lagi tentang teori teori, dan banyak lagi.

Itu baru satu contoh.
dan begitu banyak dari kita yang sudah geregetan ingin ‘ngamplengi’ pihak lain hanya karena mereka bukan kita.

Sulit ya jadi manusia berakal?
sak begja begjane tiyang supe
langkung begja tiyang ingkang eling lan waspada..
qul huwa Allohu ahad
Allohu ash shomad
lam yalid wa lam yuulad
wa lam yakun lahu kufuwan ahad.

wa Allohu a’lamu bi ash #

Seda ahmad ziyad

Comments

comments