HIDUP NYAMAN DI TENGAH WARNA-WARNI AGAMA

462

Oleh : Daden Sukendar, M.Ag[1]

 

Sekarang ini kita hidup dalam suatu zaman dimana kerukunan merupakan kata kunci yang harus disepakati seluruh bangsa sebagai pembuka realitas kehidupan. Kita tidak hidup dalam masyarakat tertutup yang dihuni satu golongan pemeluk satu agama yang sama, tetapi dalam masyarakat modern, dimana komunikasi dan hidup bersama dengan golongan yang beragama lain tidak dapat ditolak demi kelestarian dan kemajuan masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, kita hidup dalam masyarakat plural “warna-warni” baik keyakinan (kepercayaan) maupun kebudayaannya.

Kalau keharusan untuk menciptakan masyarakat agama yang berjiwa kerukunan atas anjuran dari ajaran agama akan dikesampingkan, atau tidak dihiraukan, maka mau tidak mau kita akan dihadapkan kepada situasi lain yaitu “tidak nyaman” kacau. Kita dituntut oleh situasi untuk bekerjasama dengan semua pemeluk agama untuk bersama-sama menjawab tantangan baru yang berukuran nasional bahkan internasional, seperti fenomena ketidakadilan, kemiskinan struktural, persoalan kesehatan, sampai masalah terorisme internasional.

Kesemuanya tidak mungkin diatasi oleh satu golongan agama tertentu, tetapi membutuhkan konsolidasi dari segala kekuatan baik moral, spiritual maupun material dari segenap umat beragama. Sekarang ini umat beragama mengalami ujian berat untuk membuktikan kepada dunia bahwa agama-agama masih memiliki arti yang relevan bagi kepentingan umat manusia dan dunianya.

Pluralitas masyarakat Indonesia adalah keragaman dalam sebuah wujud persatuan bangsa. Keragaman “warna-warni” kehidupan merupakan realitas yang tak terbantahkan di tanah “Nyiur Melambai” ini. Secara antropologis dan histories, masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai etnis, budaya dan agama yang saling berbeda dan meningkatkan dirinya antara satu dengan lainnya sebagai suatu bangsa.

Dalam konteks ini, pluralitas “warna-warni” agama menjadi suatu yang penting bagi masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, pluralitas adalah hal yang tidak dapat diingkari, karena pluralitas merupakan keragaman realitas yang merupakan kehendak mutlak Tuhan “Sunnatullah” yang tidak seorang pun berhak mengganggu gugat. Dengan demikian, maka jika ada yang mencoba mengharamkan“pluralitas”nya, berarti dia berupaya untuk “menuhankan” dirinya, karena dia telah berupaya merebut “kuasa” Tuhan.

Kesadaran terhadap pluralitas adalah suatu keniscayaan bagi masyarakat Indonesia. Pengingkaran terhadap adanya pluralitas agama merupakan penolakan atas kebenaran, sejarah dan cita-cita berbangsa dan bernegara.[2] Pluralitas dan “warna-warni” Agama dalam pemahaman kerangka kesatuan manusia Indonesia menciptakan sikap-sikap moderat bagi individu dan masyarakat bahwa mereka adalah “satu”. Dalam kerangka ini maka terwujudlah iklim beragama yang nyaman, sejuk, damai, dan saling menghargai sesama umat dari bangsa yang satu. Disamping itu, kesadaran yang luas terhadap pluralitas dari berbagai lapisan masyarakat agama tersebut akan menumbuhkan sikap-sikap pluralis bagi masyarakat agama yang luas pula.

Untuk mewujudkan kesadaran terhadap pluralitas, nampaknya diperlukan pemahaman substansi beragama untuk kesadaran humanitas. Namun perlu diingat, menurut hemat saya, memahami substansi beragama untuk kesadaran humanitas tidak harus lari dari formalitas ajaran agama yang dianut atau harus mengakui kebenaran seluruh agama sebagian dari ajaran agamanya. Pemahaman terhadap substansi keberagamaan merupakan upaya untuk menyadari hakikat beragama bagi setiap pemeluk agama-agama, bukan untuk menyatukan agama-agama dalam satu agama baru.

Kesadaran ini merupakan modal dasar untuk bersikap wajar dan proporsional dalam menanggapi perbedaan agama-agama. Pemahaman ini menghindarkan intervensi dan hegemonisasi serta prilaku-prilaku negative penganut suatu agama terhadap agama lain. Memahami substansi agama berarti menumbuhkan sikap saling menghormati ajaran lain. Disini umat beragama akan menyadari suatu keadaan agree in disagreement, agree in agreement dan agree in different .[3]

agree in disagreement adalah setuju untuk tidak setuju dalam hal-hal yang prinsipil dan dasar-dasar dalam agama, semisal tentang akidah atau keimanan. agree in agreement yaitu sikap setuju untuk saling setuju. Diakui bahwa ajaran agama tidak saja bersifat eksklusif tetapi juga inklusif. Banyak ajaran agama yang semakna, satu semangat maupun satu tujuan. Persamaan-persamaan ini harus diketengahkan, sementara itu perbedaan-perbedaan harus diakui, dihargai dan dihormati. agree in different ialah setuju di dalam perbedaan. Ditemukan adanya doktrin-doktrin yang disepakati oleh berbagai pemeluk agama kendatipun dalam perbedaannya. Islam mengakui keberadaan Injil dan Taurat serta penghormatan yang istimewa bagi pemeluknya. Apresiasi ini tidak hanya pengakuan tanpa legitimasi nas. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa umat Islam yang takwa adalah yang mengimani kitab Al-Qur’an dan kitab-kitab yang turun sebelumnya. Persetujuan umat Islam terhadap taurat dan injil dipahami sebagai suatu pengakuan, namun juga disadari adanya perbedaan tentang memahami eksistensinya.

Melihat tiga kesadaran yang digambarkan diatas, maka saya teringat ungkapan Komarudin Hidayat[4] yang menganalogikan agama ibarat pakaian. Menyamakan agama dengan pakaian tentu tidak terlalu tepat, meskipun keduanya memiliki kemiripan. Namun, yang menarik disini adalah apa dan mengapa pakaian dianalogikan dengan agama?.

Mari kita renungkan dan elaborasi sejenak. Apa saja yang menjadi pertimbangan ketika kita mengenakan pakaian ?. Pertama, Untuk menjaga kesehatan. Mereka yang tinggal di daerah dingin seperti puncak atau ”Lembang Bandung” disini mungkin sangat sadar akan fungsi pakaian untuk menjaga kesehatan. Sebaliknya mereka yang hidup di daerah panas mungkin akan berupaya melindungi kulitnya dari terik matahari dengan menggunakan pakaian itupun tentunya demi kesehatan.

Kedua, untuk menjaga kehormatan. Fungsi ini mengingatkan saya terhadap cerita Adam dalam Islam (atau mungkin juga ada dalam agama lain) yang terusir dari surga karena memakan buah khuldi. Lalu, Adam menemukan dirinya telanjang dan ia pun merasa malu. Kemudian, ia menutupi auratnya dengan dedaunan. Dan, salah satu aspek yang membedakan manusia dari monyet adalah manusia mengenal konsep “aurat” lalu mengenakan pakaian untu menjaga kehormatannya.

Ketiga, orang berpakaian selalu mempertimbangkan aspek estetika atau seni agar indah dipandang. Bahkan aspek keindahan inilah yang telah membuat harga pakaian berlipat ganda ketika mendapat sentuhan perancang atau desainer ternama.

Nah, nampaknya Inilah tiga fungsi utama pakaian yang bisa dianalogkan dengan agama. Seseorang yang beragama mestinya jiwa dan badannya menjadi sehat, kehormatannya terjaga dan prilaku serta tutur katanya enak dipandang dan didengar. Kalau ketiga hal tadi tidak ditemukan, pasti ada yang salah dengan dirinya atau ukuran pakaiannya yang tidak pas. Begitulah semestinya sikap keberagamaan. Ibarat pakaian yang ukurannya pas, mestinya dengan agama seseorang lebih percaya diri, enak bergaul dan sehat jiwa raganya. Pendek kata, seseorang harus merasa nyaman terhadap dirinya di tengah “warna-warni” agama dimanapun ia berada.

Kalau kita telusuri lebih jauh lagi, tentu memang masih ada peran lain  dari pakaian. Mungkin ada orang yang sengaja berdandan hanya untuk pamer. Maka dari itu, jangan heran, beragama pun bisa terkena jebakan pamer atau “riya”. Orang seperti ini hanya memahami agama secara eksoteris-formalistis sehingga terkadang mengabaikan wilayah esoteris-substansial. Ada lagi pakaian yang dirancang untuk perang. Jadi, bisa saja semangat beragama selalu disertai semangat untuk “berantem” dan mengalahkan orang lain.

Dari beragam pakaian yang ada, rasanya fungsi yang primer adalah tiga pertama yang disebutkan tadi. Hemat saya, beragama yang sehat dan benar adalah sikap keberagamaan yang mendatangkan rasa nyaman bagi diri sendiri dan enak dilihat bagi orang lain. Pakaian yang warna-warni dan beragam tentunya akan lebih menarik. Sulit memang, menerima kenyataan andaikan seluruh manusia telanjang bagaikan kerbau atau kambing. Akan tetapi, mari kita bayangkan andaikan semua penduduk bumi berpakaian, berbahasa, dan berperilaku seragam. Sungguh kurang menarik kalau dunia flora dan fauna semuanya seragam. Rasanya hidup membosankan dan sungguh tidak menarik.

Uraian diatas, saya harapkan akan menjadi fondasi awal untuk bergerak lebih lanjut, menuju wilayah dialog bahkan nantinya dapat membangun relasi yang dapat membentuk kesepahaman timbal balik (tidak ada prasangka dan biasa hidup bersama) sebagai ruang kerjasama antar umat beragama dalam konteks pluralitas. Dialog dan kerjasama adalah dua hal yang sambung menyambung. Yang satu mengandaikan yang lain. Tidak ada kerjasama tanpa didahului oleh suatu dialog. Dan dialog yang tidak berlanjut pada kerjasama merupakan dialog yang “setengah hati”, bahkan verbalisme. Khazrat Inayat Khan telah memberi contoh bagaimana sebuah dialog (spiritual) keagamaan pada akhirnya menemukan penguatannya pada kerja-kerja sosial. Sebagai Sufi, ia tidak segan-segan menceburkan dirinya dan berkotor tangan dalam aktivitas sosial.[5]

Ada banyak bentuk dialog dan kerjasama, atau gabungan antar dialog dan kerajasama yang bisa dilakukan oleh kalangan lintas agama. Banawiratma menyebut bentuk dialog aksi bersama (dialogue in action), dimana aksi umat antar iman dan agama bersama-sama mentransformasikan masyarakat agar menjadi lebih adil, lebih merdeka dan manusiawi, agar keutuhan ciptaan hidup dilestarikan.[6]

Dengan kata lain, pencerahan dan transformasi pada tataran pribadi-pribadi para pendialog dianggap tidak cukup. Mereka harus melakukan upaya transformasi sosial. Dan upaya transformasi sosial ini harus dilakukan secara bersama-sama, lintas agama. Farid Esack menggunakan istilah solidaritas antar-agama (interreligious solidarity) untuk melawan penindasan dan menegakan keadilan lintas agama.[7]

Secara lebih sederhana, bentuk kerjasama dapat dilakukan melalui suatu wadah kerjasama yang dapat dibentuk bermacam-macam. Diantaranya yang paling mudah dibentuk semacam aliansi antar agama untuk tujuan-tujuan spesifik, seperti Aliansi Antar Agama untuk Penanggulangan Narkoba (A3PN), Aliansi Antar Agama untuk Penanganan Kriminalitas (A3PK) dan Aliansi Antar Agama untuk Penyantunan Sosial (A3PS), Aliansi Antar Agama untuk Penanggulangan AIDS (A3AIDS) atau wadah-wadah lain seumpama itu.

Setelah itu, wadah yang sudah dibentuk tidak tinggal diam sampai disitu, akan tetapi melakukan follow up untuk merealisasikan cita-cita bersama yang sudah disepakati pada awal pembentukan wadah tersebut. Pada tahap berikutnya, perlu disepakati oleh setiap individu yang tergabung dalam wadah tersebut hal-hal sebagai berikut :

  1. Apa yang harus dilakukan ?
  2. Siapa yang harus dilibatkan ? atau siapa melakukan apa ?
  3. Kapan melakukannya ?
  4. Apa bentuk kegiatannya ?
  5. Media/sarana yang akan digunakan ?
  6. Dimana tempat melakukannya ?
  7. Akhirnya, bagaimana melakukannya ? dsb ….

Akhirnya, melalui ruang media PW. Ansor Jawa Barat ini  saya mengajak disi sendiri dan sahabat-sahabat sekalian untuk tetap menjadi “pelayan” Ulama dan Umat, semoga apa yang kita semua lakukan dapat menyokong apa yang kita cita-citakan untuk hidup nyaman ditengah warna-warni agama melalui dialog dan kerjasama dengan menepis prasangka untuk menggapai hidup bersama, sehingga  dapat memperkokoh NKRI ini agar benar-benar menjelma sebagai sebuah Negara Kesatuan yang berkeadilan dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

Pendapat kita memang benar, namun memiliki kemungkinan pula untuk salah, dan pendapat orang lain memang salah, tapi ia pun masih memiliki kemungkinan untuk benar.

[1])     Penulis adalah Wakil Ketua Majlis Dzikir dan Shalawat PW. GP. Anor Jawa Barat, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sukabumi 2015-2020, Direktur Lembaga Penelitian Sosial dan Agama (LENSA) Sukabumi, Sekretaris MUI Kab. Sukabumi 2016-2021

[2]) Said Agil Husin Al-Munawar, Fikuh Hubungan Antar Agama, Ciputan Press, (Jakarta : 2004), h. 210

[3]) Ibid, h. 2008

[4]) Komarudin Hidayat, Psykologi Beragama, Hikmah Populer-Mizan Publika (Jakarta : 2007), h. 8

[5]) Nurcholish Madjid dkk., Fiqih Lintas Agama : Membangun masyarakat inklusif-pluralis, Paramadina, (Jakarta : 2004), h. 238.

[6]) B.J. Banawiratma, Bersama Saudara-Saudari Beriman Lain. Dalam Dialog : Kritik dan Identitas Agama, Dian/Interfidei, (Yogyakarta : 1993), h. 26-7

[7]) Farid Esack, Qur’an, Liberation  & Pluralism : An IslamicPerspective of Interreligious solidarity against Oppression, Oneworld Publications, (Oxford : 1997)

Comments

comments