Hasan Muhtar sekertaris GP. Ansor kota Bekasi: Underpas solusi kemacetan di Jalur Perlintasan KA

144

Bekasi-(AnsorJabar Online),-
Pembangunan rel kereta double double track (DDT) Manggarai-Cikarang sepanjang 34,14 kilometer diperkirakan baru akan selesai awal tahun 2018. Namun sangat disayangkan, pembangunan infrastruktur tersebut tidak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur lainya seperti underpas. Pasalnya, keberadaan underpas sangat membantu untuk mengurai kemacetan disejumlah titik.

“Kami bukan anti pembangunan, tetapi proyek ini (DDT.dok) dinilai tidak memperhatikan dampak lingkungan khusunya lalu-lintas. Diperkirakan kemacetan di Kota Bekasi bisa diperparah jika pemerintah tidak menyiapkan infrastuktur lainya seperti pembangunan underpas disejumlah titik yang dilintasi rel kereta,” kata Hasan Muhtar, Sekjen Ansor, Kota Bekasi, Selasa (24/1/2016).

Dalam catatanya, kata Hasan yang juga Direktur Eksekutif bid Pembangunan Kota Lembaga Kajian Ilmiah “Patriot Institute” memamparkan setidaknya ada empat lokasi titik kemacetan yang harus dibangun underpass diantaranya, perlintasan kereta Bulan-Bulan, Proyek, Ampera dan Bulak Kapal. Diempat lokasi tersebut, setiap kereta melintas keemacetan cukup panjang. Apalagi jika proyek DDT terealisasi maka dapat dipastikan kemacetan akan semakin parah.

“Bayangkan jika setiap waktu kereta melintas dan belum ada underpas, saya yakin kemacetan di Kota Bekasi bisa lebih parah lagi, oleh karena itu pembangunan underpas kami rasa bisa mengurangi dan mengurai kemacetan dititik tersebut,” terangnya.

Seperti diketahui bersama, proyek ini dikerjakan oleh PT Len Industri (Persero) melalui anak perusahaan PT Len Railway System (LRS). Dimana pembangunan tersebut dibagi dalam empat paket pengerjaan. Paket A (Manggarai-Jatinegara) senilai Rp 3,440 triliun, Paket B2(1) (Jatinegara-Bekasi) Rp 900 miliar, Paket B2(2) (Jatinegara – Bekasi) Rp 260 miliar dan Paket B1 (Bekasi-Cikarang) senilai Rp 1,121 triliun.

Nantinya, jalur tersebut akan melewati enam stasiun besar yaitu Stasiun Manggarai, Stasiun Jatinegara, Stasiun Cakung, Stasiun Bekasi, Stasiun Tambun dan Stasiun Cikarang. Paket itu juga berarti memperpanjang atau menambah jalur operasi Kereta KRL dari Bekasi ke Cikarang.

Proyek pembangunan DDT (double-double track) itu merupakan proyek yang terbagi menjadi tiga paket yakni Paket B1, Paket A, dan Paket B21 yang telah dimulai sejak tahun 2013.

Untuk Paket A dan Paket B21 akan dikerjakan setelah paket itu selesai. Paket B1 akan memodifikasi sistem persinyalan SSI milik Alstom yang dipasang tahun 90-an ke sistem K5B milik Kyosan Jepang. Namun selain interlocking, hampir semua produk perkeretaapian lainnya (baik indoor maupun outdoor) menggunakan produk dalam negeri buatan PT Len Industri.

Perubahan double track menjadi double-double track bertujuan memisahkan kereta commuter dengan kereta antar kota. Untuk Bekasi ke arah barat, Bekasi-Jatinegara-Manggarai, adalah paket berikutnya (Paket A dan Paket B21), sehingga kapasitas angkut kereta api bisa menjadi jauh lebih banyak lagi. (choky)

comments

Suka?
Berita SebelumnyaDakwah Ramah
Berita SelanjutnyaMAHASISWA “KATANYA”