HARI BURUH DAN TRANSFORMASI KIRI YANG HUMANISTIK

HARI BURUH DAN TRANSFORMASI KIRI YANG HUMANISTIK

Oleh : Ardiyansyah
(Ketua PAC GP. Ansor Tambun Utara dan Anggota LTN NU Kab. Bekasi)

(sumber gambar : https://indoprogress.com/2018/08/konsep-alienasi-keterasingan-dan-sejarahnya/)

Tanggal 01 Mei sejarah mencatat bahwa banyaknya kaum buruh yang berjuang untuk kehidupan yang layaknya. Manusia yang lahir dalam keadaan merdeka, harus merasakan perbudakan yang dilakukan oleh sesama manusia. Manusia mempunyai modal dengan seenaknya memeras manusia lain yang tidak punya modal untuk keuntungan pribadi. Karl Marx dengan analisis yang tajam mencela praktek itu. Manusia bukanlah budak bagi manusia yang lainnya. Manusia bukanlah pekerja yang diupah melainkan orang yang bekerja bersama-sama secara kolektif.
Karl Marx mengajukan teori bahwa alat produksi harus dimiliki bersama dan kolektif, sehingga keuntungannya di pakai bersama-sama. Marx meyakini, tidak ada kepemilikian pribadi, dimana seseorang berhak memperbudak orang lain. Kepemilikan yang diamaksud Marx ialah meliputi tanah dan alat-alat produksi. Semua digunakan bersama-sama dan milik bersama. Hal ini harus diawali dari revolusi Proletar, dimana kaum buruh dan petani merebut kepemilikan kaum kapitalis yang menyiksa.
Manusia pada umumnya bekerja hanya 8 jam, sisanya untuk menikmati kehidupan pribadinya. Hak-hak pekerja pun harus dilindungi bukan malah diperbudak dengan mengambil kerja 16 jam, sedangkan buruh di bayar dengan gaji pokok tanpa mendapatkan nilai lebih dari suatu produk.
Hari buruh memang tidak terlepas dari ideologi Marxisme, meskipun pada orde baru dan saat ini, tertera pelarangan ideologi Marxisme – Leninisme. Teori-teori Marx memang ada yang bersifat utopia, dan di ranah praktis susah diterapkan. Inilah mengapa ideologi Marxisme tidak tunggal, karena terus mengalami transformasi. Misal, mungkin dahulu Marx melihat bahwa buruh banyak yang kehilangan hak nya dan kewajibannya dikarenakan kapitalisme global. Tetapi sebagaimana ideologi, ia tidak tunggal dan statis, melainkan dinamis. Hari ini sebagian besar buruh merasakan kemakmuran dan kesejahteraan yang telah ditetapkan oleh negara tentang upah kerja, lembur, dan hari libur. Pengusaha yang sering kita anggap kapitalis dengan negara bersepakat untuk membayar upah kerja yang telah di atur di tiap wilayah atau provinsi, kemudian membayar uang lemburan dan memberikan hak cuti.
Meskipun masih ada buruh yang merasakan ketidakadilan dari perusahaan yang tetap mereka perjuangankan. Semua profesi mempunyai problem yang sama mengenai hal itu, kita ambil contoh guru honorer yang gajinya saja bisa tiga bulan sekali dan jauh dari kata layak. Kita kembali ke tema, bahwa kapitalis yang dianggap berbahaya mengalami transformasi juga, dimana dengan modalnya pun mempunyai peran penting seperti mencegah pengangguran dan berkontribusi dalam dunia pendidikan. China yang dianggap komunis, dalam ekonomi tetap menganut sistem kapitalis yaitu pasar bebas. Sehingga bisa kita lihat, mayoritas konglomerat berasal dari sana. Korea Utara yang menggunakan ideologi Marxis, alih-alih agar rakyatnya tidak terjadi kemiskinan dengan menolak pasar bebas, justru membuat rakyatnya mundur kalah dengan Korea Selatan. Begitupun refleksi di hari buruh penulis melihat bagaimana teori Marx mampu membangkitkan semangat kaum tertindas sampai mereka meraih kesejahteraan. Hari ini kita lihat buruh ada yang mempunyai mobil, motor, bahkan bisa nyicil rumah dan lain-lain.
Tetapi teori Marx bukan saja digunakan untuk menyerang kaum kapitalis atau oligarki, melainkan untuk intropeksi diri sendiri. Erich Fromm (1900 – 1980) seorang psikoanalisis mengembangkan Marxis Humanistik. Sebenarnya, Marx bukan hanya menyindir kaum kapitalis melainkan diri manusia yang bersedia menjadi alat produksi tanpa sadar tentang esensi dirinya. Buruh itu bukanlah golongan pekerja, melainkan eksistensi manusia. Manusia jika ingin terlihat haruslah bekerja. Manusia melakukan pekerjaan bukan lagi berasalkan keinginan melainkan hanya suatu paksaan untuk menuntut kehidupan. Manusia ter- alienasi (menuju keterasingan) dengan pekerjaannya. Ia bekerja, tetapi ia merasa asing di keluarganya dimana ia jarang berkumpul dengan keluarga. Ia bekerja merasa asing dengan lingkungannya, karena waktunya habis di dunia kerja padahal manusia adalah makhluk sosial.
Manusia pada hari ini tidak akan pernah bisa lagi ketika pagi bekerja, siang istirahat, sore memancing atau sekedar menyalurkan hobi dan malam kumpul dengan keluarga. Waktu mereka habis untuk pekerjaan dimana waktu yang ia gunakan hanyalah sisa waktu kerja mereka. Erich Fromm menulis,
Buruh teralienasi karena kerja telah berhenti menjadi bagian dari sifat pekerja dan konsekuensinya, buruh tidak memenuhi dirinya dalam pekerjaannya, tetapi menolak dirinya, memiliki perasaan sengsara daripada menjadi makhluk yang baik, tidak mengembangkan energi mental dan fisiknya secara bebas, tetapi tenaganya terkuras dan mentalnya tercerabut. Oleh karena itu pekerja merasa dirinya nyaman hanya selama masa senggangnya sedangkan ketika bekerja dia merasa tidak nyaman.
Dari hal ini, buruh seharusnya lebih bisa menggunakan kesempatan waktu dan uangnya untuk menikmati kehidupan yang telah diraihnya, bukan semata-mata menjadi mesin produksi yang terus diperalat atas nama keuntungan. Transformasi kiri yang humanistik menyadarkan seseorang bahwa apapun itu, manusia janganlah asing dengan dunia nya sendiri. Bekerja bukanlah tujuan, melainkan eksistensi manusia itu sendiri.

comments