Halimah Yacob, Provokasi Cina-PKI dan Ormas Radikal

168

Halimah Yacob, Provokasi Cina-PKI dan Ormas Radikal

Publik dunia setidaknya dikejutkan oleh perempuan Muslimah berkebangsaan Singapura, bernama Halimah Yaqob, yang secara sah terpilih menjadi Presiden Singapura. Betapa tidak terkejut, Halimah Yaqob–yang konon mantan pedagang nasi Padang ini–adalah etnis dan agama minoritas; etnis Melayu-India dan agama Islam.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa Singapura jauh lebih dewasa dalam menyikapi agama dan politik. Bandingkan dengan sikap sebagian ormas radikal ketika Pilkada Jakarta. Aksi demi aksi yang tidak mendidik berulang kali digelar, ayat-ayat suci Tuhan diobral sedemikian rupa, provokasi, ujaran kebencian, kabar hoaks, fitnah dan sejenisnya, semuanya dihalalkan.

Pengalaman Singapura harus menjadi pelajaran bagi Indonesia. Ketakutan yang tidak berdasar, terutama soal isu Cina dan PKI, adalah kebodohan yang sangat besar. Kalau publik SIngapura mau, Halimah Yaqob yang Muslim akan dijegal oleh hanya karena ia minoritas. Publik Singapura takut kalau-kalau Islam akan menguasai Singapura. Islam akan melakukan penjajahan terhadap agama lain, terutama Budha dan Kristen.

Kebenaran, sedikit demi sedikit terungkap. Adalah Saracen, kelompok penjahat di balik kisruhnya Pilkada Jakarta selama ini. Dan orang bernama Asma Dewi, seorang ibu rumah tangga, dipastikan mentransfer uang sebanyak 75 juta kepada kelompok Saracen, berikut video kebenciannya yang viral di media sosial.

Ibu-ibu semacam Asma Dewi ini banyak bersarang di ormas radikal. Ibu-ibu yang notabene wawasan keagamaannya minim, bermodalkan ikut-ikutan teman dan punya semangat hijrah yang tinggi terhadap agama Islam, tetapi tidak dibarengi dengan sikap tekun dan sabar. Gejala ibu-ibu yang tergabung dalam ormas dan majelis-majelis taklim radikal ini tumbuh subur di daerah perkotaan.

Alhamdulillah, Indonesia punya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dua ormas terbesar asli yang lahir dari rahim bumi Nusantara, selalu komitmen menjaga keutuhan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Jika ormas radikal selalu melancarkan propaganda syariat Islam dan Negara Islam, tetapi tidak bagi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua ormas moderat ini setia dengan NKRI.

Halimah Yaqob sejatinya setara dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, kalau saja Ahok terpilih kembali. Tetapi karena sebaran ujaran kebencian dan ancaman bertajuk ‘Tamasya Al-Maidah’ yang begitu massif, masyarakat di Jakarta ketakutan, yang akhirnya membuat pasangan Anies-Sandi memanangkan Pilkada. Mengerikan sekali, terindikasi kuat bahwa berbagai ujaran kebencian yang selama itu menyeruak sangat berkelindan dengan pasangan Anies-Sandi, terutama dengan ditangkapnya Asma Dewi yang nota bene bendahara Tamasya Al-Maidah dan Amien Rais sebagai penasihatnya.

Begitu juga provokasi Cina dan PKI, jangan pernah termakan isu murahan itu. Para aktivis ormas radikal memang punya kemampuan provokasi yang jitu soal ini. Terutama yang mereka sebar di berbagai media sosial; facebook, telegram dan WhatsApp. Senjata provokasi mereka memang sudah disiapkan dengan lengkap untuk mengelabui publik medsos. Mereka para aktivis ormas radikal, terus akan melakukan itu semua, yang ujung-ujungnya adalah menjatuhkan Joko Widodo sebagai Presiden.

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)
Calon Bupati Cirebon

Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah, 14 September 2017, 16.50 WIB

Comments

comments