Gusdur (Selalu) Memiliki tempat di Hati Minoritas

672

30 Desember, tujuh tahun lalu Abdurahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur berpulang ke rahmatullah. Bapak plural, seorang kiayi juga presiden Republik Indonesia keempat ini memiliki tempat yang istimewa di hati para banyak orang termasuk masyarakat yang merasa diri mereka minoritas.

Romo Franz Magnis-Suseno seorang tokoh Katolah dan Budayawan memuji Gus Dur sebagai nasionalis Indonesia tulen, pluralis pelindung minoritas dan kiyai penikmat lagu Bethoven. Ia mengatakan betapa luar biasa Gus Dur ini seorang nasionalis Indonesia seratus persen, dengan wawasan kemanusiaan universal. Seorang tokoh Muslim yang sekaligus pluralis dan melindungi umat- umat beragama lain.

“Enteng-enteng saja dalam segala situasi, tetapi selalu berbobot; acuh-tak acuh, tetapi tak habis peduli dengan nasib bangsanya. Orang pesantren yang suka mendengarkan simfoni-simfoni Beethoven,” kata Franz dalam tulisannya.

Di dunia Internasional,kabar kematian Gus Dur membuat Paus, pimpinan tertinggi Gereja Katolik ikut berbelasungkawa yang sebesar-besarnya. Begitu mendengar kabar kematian Gus Dur, Paus Benediktus XVI mengirimkan doa belasungkawa atas wafatnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Surat belasungkawa yang dikirimkan khusus dari Vatikan.

“All loving God, we have lost a great statesman who taught about plurality. You have called our father Abdurrahman Wahid who had always taught about peace. This nation needs him,”

Pada acara tahlilan hari ketujuh wafatnya Gus Dur Selasa (5/1/2010), surat Paus Benediktus XVI itu dibacakan oleh Romo Benny Susetyo dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

“Ya Allah yang Mahakasih, kami telah kehilangan negarawan yang sangat besar, yang mengajarkan perbedaan. Kau panggil bapak kami Abdurrahman Wahid yang selalu mengajarkan perdamaian. Bangsa ini membutuhkan beliau.”

Kalangan Protestan begitu berduka mendengar berita kematian Gus Dur. Salah satunya umat Kristen Sulawesi Utara menurut mereka Gus Dur adalah pahlawan minoritas. Pendeta AO Supit Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa mengatakan bahwa Gus Dur adalah tokoh perdamaian dan pahlawan minoritas. Kami benar-benar kehilangan. Belum ada tokoh setara Gus Dur. Ia pergi meninggalkan semerbak melati.

Apa sebenarnya yang dilakukan Gus Dur sehingga orang-orang yang berbeda keyakinan dengan Gusdur, ikut berduka atas kepergiannya. Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta AA Yewangoe pernah mengungkapkan bahwa ia bertemu langsung dengan Gus Dur tiga bulan lalu ketika ada sebuah gereja yang izinnya dicabut wali kota.

”Beliau datang ke Kantor PGI untuk memberikan dukungan. Itu adalah salah satu bukti, beliau menginginkan semua orang di Indonesia memperoleh hak beribadah,” katanya. Dia melanjutkan, Gus Dur adalah tokoh bangsa yang tidak tergantikan. ”Beliau sangat memerhatikan kerukunan umat beragama di Indonesia,” ujarnya Pendeta AA Yewangoe.

Karena sangat mencintai dan menghormati Gus Dur, masyarakat Katolik Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Misa Arwah untuk Gus Dur.  Gus Dur dinilai layak dihadiahi Misa Arwah karena semasa hidupnya sangat membela umat Kristen. Misa arwah digelar untuk mendoakan arwah Gus Dur agar diterima di sisi Tuhan dan  agar amal perjuangan Gus Dur selama didunia mendapat ganjaran keselamatan dari Tuhan.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dalam keterangan pers-nya, di Kupang, Desember 2009 yang lalu mengatakan, peranan Gus Dur dalam bangsa ini menurutnya sangat strategis. Gus Dur adalah tokoh nasional yang selalu memberi perlindungan dan pembelaan kepada kelompok minoritas. Gus Dur melahirkan gagasan gagasan brilian mengenai hak asasi manusia, demokrasi, dan pluralisme.

Lebih lanjut dikatakannya, demi membela umat Kristen, bahkan Gus Dur sering dimusuhi karena sikapnya yang moderat, demokratis, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Masyarakat NTT tidak dapat berbuat banyak atas kepergian tokoh nasional ini. Hanya doa dan terimakasih yang bisa disampaikan melalui misa arwah, yang digelar pada tanggal 5-6 Januari 2010.

Romo Franz Magnis-Suseno angkat bicara lagi soal mengapa Gus Dur memiliki sikap yang terbuka ini menurutnya Gus Dur memiliki hati yang terbuka bagi para tertindas, para korban pelanggaran hak-hak asasi manusia. Umat-umat minoritas merasa aman padanya. Gus Dur membuat mereka merasa terhormat, ia mengakui martabat mereka. Ada yang tidak mengerti mengapa Gus Dur begitu ramah terhadap agama-agama minoritas, tetapi sering keras terhadap agamanya sendiri.

“Gus Dur demikian karena ia begitu mantap dalam agamanya. Karena itu, ia tidak perlu defensif dan tidak takut bahwa agamanya dirugikan kalau ia terbuka terhadap mereka yang berbeda,” Ujar Romo Franz Magnis.

Demi membela minoritas Gus Dur dimusuhi mayoritas

Di saat kebanyakan orang mengelu-elukan sosok Gus Dur sebagai Ulama, Kyai, Pahlawan Gereja, Guru Bangsa, Bapak Bangsa di sisi lain ada juga yang mengkritisinya. Di tengah simpati jutaan warga Indonesia dari Presiden, kiyai, santri sampai rakyat jelata terhadap meninggalnya Gus Dur, ternyata ada kiyai dan ulama yang kurang simpati terhadap Gus Dur, bahkan menyebut Gus Dur sebagai orang murtad karena pernyataan dan sikapnya yang dinilai keluar dari aqidah Islam.

Di Madura, sejumlah kiai dan ulama yang dikenal berlawanan pandangan dengan Gus Dur, baik dalam politik dan agama, secara manusiawi tetap mengungkapkan turut berduka cita atas wafatnya mantan presiden RI keempat tersebut. Tapi secara politik dan pemikiran keagamaan, mereka berharap tak ada lagi orang yang nyeleneh seperti Gus Dur.

Putri Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid, Anita Wahid, menilai selama ini masyarakat Indonesia salah mengenal sosok ayahnya. Menurut Anita, Gus Dur bukan sosok seperti yang diasumsikan banyak orang.

Di Wihara Petak Sembilan, misalnya, beberapa pengurus wihara berharap akan terpilih sosok seperti Gus Dur pada Pemilu 2014 lalu. Anita mengatakan ayahnya sebenarnya adalah tokoh yang membela dan menjunjung tinggi kesetaraan.

Hanya saja karena kaum minoritas selalu diposisikan berada di bawah kaum mayoritas, maka Gus Dur selalu melakukan upaya untuk membela mereka. Tujuannya tidak lain adalah agar tercipta kesetaraan antara kaum minoritas dan kaum mayoritas.

“Jadi kalau misalnya saat itu posisinya kaum mayoritas yang tertindas, maka pasti Gus Dur juga akan membela kaum mayoritas supaya tercipta kesetaraan,” jelas Anita.

Dengan begitu, kata Anita, setiap masyarakat nantinya dapat berdiri setara, mendapatkan perlakuan yang adil dan jauh dari ancaman diskriminatif.

(Alfaiz/Ratu)

comments