Ansor Aktivis yang Nyantri

465

Oleh:  Wahyu Iryana

Setidaknya untuk mengidentifikasi siapakah santri di butuhkan pemetaan khusus atas generasi santri di Indonesia dari awal hingga sekarang. Istilah santri sebenarnya melekat pada mereka yang pernah belajar di pesantren. Pernah belajar pada seorang kiai atau ajengan dan pernah belajar kitab kuning yang menjadi ciri khas suatu pondok. Aktivis bisa juga dinisbatkan untuk penggerak organisasi yang peka terhadap kesadaran sosial masyarakat dan jiwa jamannya. Ansor sendiri merupakan organisasi kepemudaan yang bernaung dalam Nahdatul Ulama, rata-rata meraka para santri berorganisasi dan mendharma baktikan ghirah gerakan berorganisasi pada Ansor.

Gerakan Pemuda Ansor adalah banom dari Nahdhatul Ulama (NU). Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap organisasi pasti memiliki identitas nasional sebagai wujud kesadaran berbangsa, begitun  Gerakan Pemuda Ansor sampai detik ini masih tetap di garda depan untuk mempertegas eksistinsi jati diri bangsa dalam naungan Bhineka Tunggal Ika. Sebagai organisasi berbasis santri di Nusantara. Ansor dituntut mampu memberi kontribusi lebih kepada bangsa yang sedang dirundung berbagai problem-problem yang mendasar seperti ahlak dan moral para pemimpin, banjir, pemerataan pembangunan yang tak kunjung bersua, kemiskinan, pengangguran dan sebagainya. Idealnya yang menjadi ukuran besar dan kecilnya organisasi bukan pada kuantitas saja, namun tetap dibarengi dengan kualitas. Untuk itu Gerakan Pemuda Ansor terus berbenah diri untuk menjadi organisasi yang terdepan dalam segala hal. Yang besar dan berkualitas dengan sendirinya akan unggul, tetapi yang harus kita fahami adalah yang kecil dan berkualitas pun akan mampu mengalahkan yang besar tapi tidak berkualitas. Namun, selama manusia hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa selama itu pula corak budaya dan keragaman akan terus hidup berdampingan.

Di era modern ini agaknya makin sedikit rakyat Indonesia yang berfikir tentang semangat nasionalisme, manusia Indonesia sekarang disibukan dengan bagaimana mencari pekerjaan tetap, mengakhiri kemiskinan, kesejahtraan hidup yang layak, terbebas dari banjir dan macet, atau bahkan bagaimana cara memenangkan pemilu dengan menghalalkan berbagai cara? Setelah Indonesia merdeka, selama hampir lebih dari enam dekade, semangat kebangsaan kita lebih condong pada menuntuntut persamaan keanggotaan kewarganegaraan dari semua kelompok etnis dalam satu nation.

banyak faktor yang memperkuat lunturnya semangat ke-Bhinekaan kita. Pada satu sisi, mereka merasa pesimis lantaran memandang begitu banyaknya persoalan yang menimpa bangsa setahun terakhir ini. Pertikaian dan kekerasan seakan sudah menjadi keseharian masyarakat. Sedemikian mengkhawatirkannya, bahkan untuk persoalan sepele seperti percekcokan mulut acapkali berbuntut panjang hingga mengorbankan jiwa manusia.

Sisi lain, sikap ketidakpercayaan publik terbentuk ketika memandang segenap upaya pemerintah yang tidak juga membuahkan hasil. Baik dalam persoalan politik, maupun perekonomian penanganan pemerintah masih belum memuaskan. Kini sulit rasanya untuk mengagung-agungkan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh pemerintahan sekarang.

Terhadap keberadaan pemerintah saat ini, Bastian Nainggolan pernah menulis bahwa masyarakat yang percaya perbaikan akan terjadi apabila pemerintah punya kekuatan dan kewibawaan, terpilah menjadi dua bagian, yaitu mereka yang tidak lagi memiliki kesabaran dan yang masih menyimpan rasa optimis terhadap pemerintah saat ini. Bagi mereka yang hilang kesabarannya, beranggapan tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari pemerintah saat ini. Pemecahan masalah ini, pergantian pucuk pimpinan perlu dilakukan. Sebaliknya, sebagian kalangan lainnya masih tetap yakin dengan segenap kemampuan yang dimiliki oleh pemerintahan saat ini. Sekalipun apa yang dihasilkan setahun terakhir dianggap belum memadai, semua itu masih dapat dimaklumi mengingat betapa peliknya persoalan yang dihadapi. Kedua, mereka yang sejak semula beranggapan bahwa kunci dari segenap persoalan berada dalam masyarakat itu sendiri. Pandangan seperti ini terjadi, mengingat selama bangsa ini memerdekakan diri, tidak pernah sekalipun pemerintahan yang terpilih mampu membawa kesejukan bagi masyarakatnya. Setiap memulai sebuah pemerintahan acapkali harapan muncul. Namun, sayangnya, dalam perjalanannya sebanyak itu pula ketidakpuasan yang diberikan. Oleh karena itu, bagi kalangan ini, kekhawatiran dan pesimisme dalam menyongsong tahun yang akan datang mereka hadapi dengan berbagai upaya untuk memperkuat kondisi internal mereka.

 

Marwah Santri

Dari uraian di atas ada pertanyaan yang muncul, apa peran santri untuk bangsa Indonesia? Ada berbagai peran penting yang telah diberikan untuk menggerakkan wacana keislaman di Tanah Air, yang sarat dengan kepentingan, pertarungan, diskusi, dan berhadapan dengan gagasan cemerlang yang lebih mendunia.

Semakin lama, jumlah dan wacana yang dikemukakan semakin memiliki gaung yang besar. Setidaknya, golongan penerus kaderkader muda yang mengikuti jejak angakatan sebelumnya telah berperan dalam kantong-kantong gerakan nonformal, seperti LSM, kelompok-kelompok diskusi, dan kelompok partikelir yang dengan sendirian pula bisa menembus ke media massa untuk menulis dan berwacana.

Pertumbuhan santri mengalami berkembang pesat sampai sekarang. Hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan pesantren di seluruh Indonesia. Alasan konkret dari menjamurnya pesantren adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional, karena salah satu great traditional yang dikembangkan di Indonesia adalah tradisi pengajaran agama Islam, seperti yang muncul di pesantren.

Salah satu pengajaran khas di pesantren adalah transformasi keilmuan kitab kuning yang membahas ilmu alat. Dalam penjabaran yang lebih luas ilmu alat ini mencakup tata bahasa Arab tradisional, seperti nahu (sintakstis), sharaf (infleksi), balaghah (retorika), di samping itu juga ada ilmu mantiq (logika) dan ilmu tajwid (ilmu untuk membaca Alquran dengan baik dan benar).

Pengembaraan santri yang datang dari pesantren tradisional ke kota bisa jadi karena wawasan dan skill yang dimiliki para santri tersebut kurang mendapat tempat dalam struktur organisasi di daerahnya. Ini karena kurangnya wadah yang pas untuk menampung alumnus santri yang mempunyai progres yang tinggi. Di sinilah posisi Ansor sebagai wadah organisasi kepemudaan santri akan melakukan kaderisasi keangotaan melakui Pelatihan Kader Dasar maupun Pelatihan Kader Lanjutan hingga ke tingkat nasional.

Para santri kemudian saba kota untuk melakukan studi di universitas-universitas Islam, seperti di institut agama Islam negeri (IAIN) atau universitas Islam negeri (UIN) ada juga dari mereka yang belajar dikampus umum bahkan ke luar negeri, seperti ke Mesir, Irak, Yordania, dan Madinah. Setelah lulus mereka bergerak dalam pemberdayaan masyarakat, jurnalis, bahkan ada yang tetap menggeluti bidang akademis sebagai staf pengajar dan ada juga dari mereka yang bergerak dalam bidang politik sebagai wakil rakyat di parlemen.
Santri di era global Globalisasi, menurut Anthony Giddens dalam British Economist menulis bahwa “The Third Way: The Renewal of Sosial Democracy“ adalah suatu kenyataan saat hubungan sosial mendunia tidak ada lagi hambatan dan jarak antara berbagai realitas, satu peristiwa yang terjadi secara lokal dengan kejadian lain yang berlangsung di belahan dunia lainnya.

Perkembangan zaman mengharuskan santri untuk melakukan rekonstruksi dakwah yang ideal pada zamannya. Santri urban harus tahu dan mengenal substansi dari peradaban global. Secara terminologi peradaban atau civilization sering diartikan sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang mapan dan organisasi sosial yang dinamis. Dalam arti lain, peradaban yang dimaksud adalah kemajuan budaya dari suatu masyarakat pada daerah tertentu dengan ciri organisasi sosial politik yang mapan, pengetahuan, kemajuan di bidang seni, iptek, dan pertumbuhan produkproduk material yang kompleks. Ansor pun sudah melakukan ini, kesinkronan gerakan yang progres dari kaum santri telah menjadi wujud nyata Ansor mampu ngigelan jiwa jaman.

Sebagai bagian dari masyarakat global, santri memiliki tanggung jawab besar untuk merespons isu globalisasi. Karena, motif dari kelahiran Ansor sendiri tidak terlepas dari perkembangan masyarakat global, yang multietnik, politik, budaya, dan multiagama. Urbanisasi masyarakat desa ke kota dengan alasan rasionalnya bahwa kota sebagai pusat kegiatan.

Bagaimana Ansor sebagai suatu gerakan pemuda santri mampu mengelaborasi dakwah dalam era global? Tentunya santri yang bergerak dalam kepemudaan Ansor harus mampu masuk dalam dunia media, santri hendaknya tidak gaptek terhadap teknologi yang berkembang. Media dakwah santri bisa melalui radio, televisi, media cetak, maupun dakwah via internet. Banyaknya kontes-kontes dai disadari atau tidak apabila tidak mampu melakukan akses menyeluruh terhadap perkembangan zaman, ia akan dijadikan boneka entertaiment belaka.

Pada dasarnya untuk melakukan dakwah tidak harus menjadi seorang kiai saja. Di manapun kita berada, seorang santri entah ia sedang berada di pemerintahan, kampus, kantor, ataupun di gedung parlemen, tanggung jawab moral untuk melakukan transformasi nilai-nilai Ilahiyah yang positif sudah selayaknya dilakukan, tentunya dengan diimbangi sikap pekerti santri.

Dalam hal ini posisi Ansor adalah sebagai mediasi antara relasi agama dan negara. Paling tidak ada dua landasan argumentasi yang melegalkan hal tersebut.
Pertama, argumentasi normatif teologis dan yang kedua argumentasi historis, keduanya pernah disampaikan Gusdur dalam satu seminar di Jakarta yang bertajuk “Relasi Negara dan Agama“.

Penulis berharap, semoga dari Gerakan Pemuda Ansorlah akan muncul pangeran bersarung (santri) sebagai pemimpin nasional untuk mengentaskan problem-problem bangsa. Wallahu a’lam.

 

*Penulis,Dosen Honorer UIN Sunan Gunung Jati Bandung, Cendikawan Muda NU.

 

 

Comments

comments