Filosofi Tanah

205

Oleh: Refki*)
Sejarah bercerita, bahwa NU adalah Takdir Tuhan bagi utuhnya NKRI.
Mengapa saya katakan sejarah “bercerita”, bukan “mencatat” ?

Karna kita tahu, cuma dari cerita para Kyai, jika merdekanya bangsa ini harus menumpahkan darah Ulama dan Santri. Itupun hanya diyakini oleh sebagian Nahdliyin, karena rasa ragu akan timbul jika kita buka ulasan sejarah lewat buku-buku sekolah. Ulama dan Santri tidak pernah tercatat dan dihapal namanya oleh para murid.

Kini, pemerintah baru sadar untuk menempatkan NU sebagai bagian dari tinta emas sejarah kemerdekaan. Jadi, diksi “bercerita”, bagi saya lebih tepat mewakili perasaan saat menulis coretan ini. Jika sejarah mencatat, Seharusnya sudah lama NU masuk dibuku-buku Sejarahnya anak sekolah. Namun sudahlah, tidak usah kita tuntut terlalu panjang. Toh Ulama mendirikan NU dulu juga tidak punya tendensi apa-apa atas negara, kecuali tegaknya Islam yang Rahmatan lil Alamin di Nusantara.

NU– sebagaimana kita tahu Ia Bukan semata organisasi Agama tertentu. Jika diibaratkan NKRI adalah Puzzle, maka NU adalah bingkai yang mampu merekatkan mereka semua dalam satu wadah hingga terlihat indah. NU adalah Rajutan dari kebhinekaan bangsa yang dulunya tercecer-cecer karena Agama dan budaya yang berbeda.

Saya sampai kehabisan kata jika harus berdebat dengan para kaum berjenggot dan celana cingkrang atas isue Khilafah. Bagi saya mereka ini tidak lebih dari sekedar rombongan manusia yang sedang kesurupan jin Arab sana. Logika tak dipakai, Paradigma tidak punya, Ilmu ibadah pun cuma modal Youtube. Corak Mindset yang berbeda, jelas tidak akan menemukan win-win solution dalam berdebat. Akhirnya, hanya elusan dada dan dzikir berkali-kali sajalah yang mampu meredam hati saya agar tidak amarah.

Sama seperti cerita-cerita sebelumnya. Saat kebhenikaan negara ini digoyang lagi oleh segelintir oknum yang mabuk Agama. NU selalu bersikap moderat. Tidak kekanan-tidak kekiri, Selalu hati-hati dalam bertindak hingga terkesan lemah syahwat untuk bertindak. Hasilnya, banyak warga Nahdliyin yang gregetan menunggu Aksi NU menentukan sikap. Ini terulang mulai sejarah kemerdekaan, PKI, Krismon 98, sampai aksi 212 dan 412 yang heboh kemarin hari.

NU selalu dituduh jadi tunggangan kepentingan, dicaci, dijadikan sasaran fitnah. Walau nanti endingnya NU jugalah muara aman dan pelerai gegernya anak bangsa yang sedang berbagi roti.

Kini saya mulai paham. Selain mengedepankan sikap bijaknya yang moderat. Ternyata NU berfilosofi seperti Tanah. Mengapa harus demikian ?. Tanah ialah unsur terpenting bagi kelangsungan hidup manusia didunia. Ia bukan seperti Emas yang dipuja, bukan seperti Air yang dicari, bukan seperti Minyak yang direbut.

NU adalah tanah. Tempat dimana semua anak Adam berpijak, berlari, berbaring, menanam, mangunduh segala kebutuhan hidup, namun tidak jarang kita lupa menghormatinya. Kita ludahi, kita caci, bahkan kita hadiahi kotoran ditiap harinya.

Namun begitulah sifat Tanah ia tak pernah menuntut, toh yang menjadi penguasa bukan dari unsur tanah, Ia tak pernah kecewa dan putus asa, sebab para wali menitipkan bangsa ini kepadanya. Ia tetap setia menjadi alas bagi semua anak Adam atas segala kecongkakannya.

Tapi, kita juga harus Ingat. Jangan sesekali melawan Tanah, kita pasti kalah ia bisa menelan dan menenggelamkan kita. Karena tanah adalah tempat akhir kita sebelum ke akhirat nantinya.

Blitar 1 Mei 2017
*Penulis Merupakan Dosen di IAIN Tulungagung

Comments

comments