Film G30S PKI, Panglima TNI dan Kelompok Ormas Radikal

50

Film G30S PKI, Panglima TNI dan Kelompok Ormas Radikal

Menonton film itu sah saja, kapan saja dan di mana saja asal tidak ada yang dirugikan. Termasuk menonton film lama G30S PKI yang belakangan marak diputar di mana-mana, meskipun belum tentu paham apa tujuannya. Menonton film G30S PKI menjadi bermasalah ketika ia dimaksudkan untuk memancing kebencian dan luka lama kepada generasi sekarang.

Panglima TNI adalah salah satu aktor dan penganjur paling agresif yang menyebabkan masyarakat berpolemik. Seolah-olah menonton film G30S PKI tersebut itu wajib untuk pendidikan sejarah. Kalau maksud dan tujuannya adalah untuk pendidikan sejarah, tentu ada banyak tragedi berdarah yang setara dengan peristiwa G30S PKI di antara misalnya pemberontakan DI/TII, Permusi dan lain peristiwa lain sejenisnya.

Kita harus bijak menyikapi ihwal PKI. Setelah provokasi antek Cina, isu PKI sengaja digoreng agar suhu politik bangsa kita memanas. Kita harus menangkap bahwa PKI memang bagian dari sejarah kelam bangsa. Dan ia bukan satu-satunya peristiwa, rezim Orba saya pikir juga tak jauh lebih kejam dari PKI. Bandingkan rezim Orba membodohi masyarakat bangsa dengan kekuasaan yang diktator, otoriter dan dekat dengan kekerasan.

Saya pikir kita harus belajar dari Al-Maghfurlah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang justru tulus melayangkan permohonan maaf kepada para keluarga eks PKI. Kita tidak boleh menyimpan dendam kesumat yang berkepanjangan. Sejarah memang tidak bisa dilupakan, tetapi demokrasi bangsa kita semakin dewasa, kehidupan semakin dinamis dan terus mengalami perubahan.

Kita para generasi bangsa tidak boleh terjebak dendam kebencian, terutama kepada anak keturunan eks PKI. Mereka sama seperti kita, warga negara Indonesia, yang hak-haknya harus sama dipenuhi. Dan itu artinya tak boleh ada diskriminasi. Jangan pernah termakan isu murahan soal kebangkitan PKI. Main tuduh dan fitnah sana-sini.

Ingat musuh kita bukan Cina dan PKI, musuh kita adalah nafsu kebencian dan dendam kesumat tentang apa saja, termasuk isu-isu murahan Cina dan PKI. Musuh kita adalah bisa jadi kita sendiri. Watak dan karakter kita yang keras dan radikal. Orang-orang yang mentalnya sakit dan bersumbu pendek. Mereka yang tidak punya daya filterisasi yang kuat. Selian miskin literasi, wawasan keagamaan yang sempit dan minimnya ekonomi sangat mempengaruhi.

Untuk itu, sudah saatnya kita hentikan segala upaya-upaya memecah-belah bangsa, termasuk menonton film G30S PKI yang tujuannya untuk memancing dendam dan kebencian. Kita juga harus terus mengingatkan agar Panglima TNI serius menjalankan amanahnya sebagai pimpinan tertinggi TNI. Selama ini pandangan-pandangannya cenderung pro kelompok Ormas Islam radikal.

Majelis Ulama Indonesia dan Nahdlatul Ulama, sama sekali tidak menganjurkan masyarakat untuk ikut dalam aksi 299. Selain tidak bermanfaat, aksi itu hanya akan memperkeruh suasana yang dapat memecah belah bangsa. Terutama kita kelompok masyarakat moderat agar terus berperan aktif dalam dunia maya maupun nyata untuk terus membendung arus kelompok Ormas Islam radikal. Mereka adalah kelompok Ormas yang kerap kali melakukan aksi kekerasan, mempolitisir agama dan berbagai aksi yang mengarah pada makar.

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)
GP Ansor Kabupaten Cirebon

Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah, 28 September 2017, 10.55 WIB.

Comments

comments