Deradikalisasi Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis

70

Deradikalisasi Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis

Sejak tadi menjelang maghrib (8/12), saya sudah sampai di Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka. Saya sengaja datang ke pesantren ini dalam rangka silaturahim dengan pengasuhnya KH. Maman Imanulhaq dan Nyai Hj. Ufiq Imanulhaq dan ‘Ngaji Ihya’ bersama KH. Ulil Abshar Abdalla. Mengaji kitab kuning seperti ini, bagi saya, adalah salah satu cara paling efektif dalam rangka deradikalisasi pemahaman Al-Qur’an dan hadis.

Buat apalagi kalau bukan untuk ‘ngalap berkah’ kepada penganggit kitab Ihya ‘Ulumuddin ini yakni Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Bagi para santri di pesantren mengaji kitab kuning ini bukan hal aneh. Ia adalah ‘makanan’ sehari-hari. Biasanya para santri mengaji kitab kuning secara sorogan maupun bandungan. Dan ‘Ngaji Ihya’ ini akan sangat spesial karena disiarkan secara online via Favebook.

Mengaji seperti ini menunjukkan bahwa belajar Islam itu perlu waktu, proses, ketekunan dan kesabaran. Para ulama dan kiai yang mendidik para santri di pesantren pun adalah yang dahulunya juga mengenyam pendidikan di pesantren dan belajar kepada para ulama Nusantara terdahulu, bahkan sampai ke beberapa negara Timur-Tengah.

Jadi kalau ada orang yang belajar di pesantren saja tidak pernah, mengaji kitab kuning saja belum pernah, mengaji hanya dari terjemah Al-Qur’an dan hadis saja, lalu kemudian dianggap dan dielu-elukan sebagai ulama, tetapi akhlaknya jauh dari ulama, sungguh memprihatinkan. Mencaci maki orang lain yang berbeda agama, mempolitisasi agama, termasuk punya propaganda jahat, mengubah NKRI menjadi negara-Islam atau Khilafah Islamiyah (makar).

Saya pun bersyukur, sampai hari ini masih senang mengaji kitab kuning–meskipun suka mengantuk dan tertidur pula. Hehe. Mengaji kitab kuning menjadi penting agar kita tidak keliru dalam memilih orang yang akan kita jadikan panutan sebagai ulama. Jangan hanya karena orang tersebut Mualaf, baru hafal satu-dua ayat Al-Qur’an dan hadis, berjubah, berjenggot, berjidat hitam, lalu pandai bicara, dengan gampangnya dianggap ulama panutan. Awas, ini berbahaya.

Deradikalisasi pemahaman terhadap Al-Qur’an ini menjadi penting agar istilah-istilah rawan seperti ‘jihad’, ‘kafir’, ‘munafiq’, ‘hijrah’, dan lain serupanya, jangan sampai disalah-arti dan tempatkan. Bahkan menurut kajian kitab Ihya Ulumuddin pada malam hari tadi, Kiai Ulil menegaskan, sambil mengutip penggalan ayat Al-Qur’an: “Falaa tuzakkuu anfusakum (Janganlah kalian menggagap suci kalian). Sebab syetan meletakkan ‘belalai’-nya dalam kalbu manusia. Kapanpun.

Islam tidak pernah punya ajaran di mana kita menganggap kitalah yang paling benar, sementara yang lain salah. Hanya umat Muslim saja yang benar, umat agama lain adalah kafir. Hanya umat Islam sajalah yang akan masuk surga, sementara umat agama lain masuk neraka. Itu akibat paling fatal ketika Al-Qur’an dan hadis dipahami secara radikal, dipahami secara literal tanpa diimbangi dengan disiplin keilmuan lainnya.

Akhirnya, siapa yang mengaku Islam adalah dia yang mendamaikan dan memberi rasa aman. Orang yang meyakini Al-Qur’an dan hadis mestinya adalah mereka yang semakin ramah sebagaimana Allah Maha Rahman-Rahim, sebagaimana Rasulullah saw., begitu ramah kepada siapapun tanpa pandang bulu. Bukan malah menampilkan Islam yang garang dan marah.

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)
GP Ansor Kabupaten Cirebon

Pesantren Al-Mizan, 8 Desember 2017, 21.49 WIB

Comments

comments