Cinta Melumpuhkanmu

1668

Cinta itu buta. Hajinguk! Orang tidak akan mempermasalahkan keburukan orang atau sesuatu yang dicintainya meski itu terlihat jelas. Sangat jelas. Seperti persoalan yang sedang dialami oleh Habib Rizieq, misalnya. Ketua Front Pembela Islam itu kini sedang mengalami penderitaan yang dulu pernah ia berikan kepada Ahok, si China yang penuh dosa sedangkan kalian tidak.

Video Habib Rizieq yang menjadikan sifat ketuhanan yang dipercayai oleh umat Kristiani sebagai lelucon yang tidak wajar untuk ditertawakan viral di sosial media. Dalam video tersebut Habib Rizieq mengatakan, “Kalau Tuhan punya anak, bidannya siapa?.” Jelas lelucon garing Habib Rizieq itu akan melukai hati umat Kristiani. Seperti yang dikutip dalam tulisan Sophia Azizah yang berjudul “Tuhan Perlu Dibela, Habib Rizieq Tidak Usah”, Tuhan sebagai Dzat yang memiliki entitas paling tinggi dari materi apapun di dunia ini sangat wagu untuk dijadikan objek guyonan di depan orang banyak. Bagaimana pun logika Habib Rizieq ini memang berbahaya bagi kedaulatan Tuhan semua agama terutama Islam sebab telah menggunakan konteks manusia untuk menguji validitas Tuhan dan itu adalah merupakan bagian daripada bunuh diri iman.

Candaan Habib Rizieq yang sebenarnya ingin menguji validitas Tuhannya umat Kristiani itu telah masuk ke dalam fallacy of dramatic instance. Pasalnya, Habib Rizieq menguji kevalidan Tuhan yang bersifat metafisika dengan sesuatu atau pertanyaan yang bersifat fisik. Penggunaan frasa ‘bidan’ ini jelas hanya bisa dikonsumsi oleh manusia, tidak dengan Tuhan. Seperti juga yang dikatakan Shopia Azizah, pertanyaan yang dilontarkan Habib Rizieq tersebut akan terus tumbuh berkembang hingga pada puncaknya orang-orang akan bertanya, “Jika Tuhan itu ada, jenis kelaminnya apa?”, atau “Jika Tuhan Maha indah, makeuper-nya siapa?.”

Dulu Ahok dilaporkan dan dianggap telah menistakan agama Islam karena dirasa telah membawa-bawa ayat al-Qur’an yang bukan menjadi kapasitasnya dalam kunjungannya ke Pulau Seribu. Kemudian akhi-akhi sekalian melakukan aksi sebagai bentuk pengawalan terhadap kasus tersebut. Padahal maksud dari pernyataan Ahok sudah sangat jelas kalau ia hanya sedang menyinggung atau mengkritisi politisi agama.

Sekarang Habib Rizieq melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Ahok. Yaitu membawa-bawa ajaran umat Kristiani yang bukan menjadi kapasitasnya. Dan pernyataan atau pertanyaan Habib Rizieq ini malah masuk ke dalam dan menyentuh dasar keimanan Kristen. Tidak jelas arahnya dan tidak berbobot. Hingga akhirnya, PMKRI, yang merupakan Organisasi Kepemudaan Katolik melaporkan pertanyaan Habib Rizieq tersebut atas dasar dugaan penistaan agama.

Tapi apa yang terjadi, akhi? Novel Bamukmin, saat diwawancarai oleh salah satu media, ia menyampaikan, “Tuduhannya sangat mengada-ada. Itu fitnah murahan yang ditujukan kepada Habib Rizieq.” Novel menambahkan, “Sangat tak mungkin seorang Habib Rizieq itu menistakan agama…” Dan karena Novel meyakini kalau Habib Rizieq tidak mungkin menistakan agama, maka ia ingin kembali melaporkan si pelapor dengan tuduhan pencemaran nama baik. Padahal apa yang tidak mungkin di dunia ini? Kau yang dulu tidak mencintaiku saja pelan-pelan bisa luluh. Aduh!

Bahkan akhi yang sama sekali tidak mengenal siapa Habib Rizieq, dengan semangat juang yang tinggi, akhi sudah menyiapkan pembelaan untuk junjungan akhi dan (mungkin) sampai mati akan mengorbankan jiwa dan raga akhi untuknya. Seolah ia adalah cerminan kebenaran dan perdamaian yang ada dan hidup. Padahal jika akhi sedikit saja mencoba untuk berpikir dan merenung, Gus Mus pernah berkata, tidak ada kebenaran yang benar-benar benar kecuali kebenaran Tuhan. Kebenaran manusia hanya bersifat subjektif, akhi, tidak objektif. Nietzsche bahkan mengatakan kalau di dunia ini tidak ada sesuatu yang objektif. Tidak ada! Jadi silakanlah akhi sebentar saja coba untuk berpikir sebelum menjatuhkan cinta paling dalam kepada seseorang.

Ketahuilah oleh akhi bahwa apa yang terjadi dalam diri akhi yang terus membela seseorang meski ia salah adalah karena kecintaan akhi kepadanya yang sangat besar dan dalam melebihi apapun sehingga membuat akhi menutup mata dari segala keburukan-keburukan yang dilakukan oleh orang yang akhi cintai. Akhi pernah mendengar perkataan Ali bin Abi Thalib? Ya, benar, “Cintailah kekasihmu dengan sekadarnya saja, sebab bisa jadi pada suatu hari dia akan menjadi orang yang membencimu. Dan bencilah kepada orang yang membencimu sekadarnya saja, karena bisa jadi pada suatu hari dia akan menjadi kekasih Anda.”

Dan ternyata, sebenarnya, yang dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin, atau pada puncaknya akan membunuhmu, bukanlah karena sebatang rokok. Melainkan karena kecintaan manusia pada rokok. Itu!

*Muhammad Syamsul A, lahir di Karawang, November 1995. Ia adalah salah satu kader PMII Cab Kab. Bandung Rayon Adab dan Humaniora.

comments