Cinta Melambungkan Raga Duniawi Kita Menuju Langit

96

لَقَدْ سَمَا الْجَسَدُ التُّرَابِيُّ مِنَ الْعِشْقِ حَتّٰى الْأَفلاَكِ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
“Cinta Melambungkan Raga Duniawi Kita Menuju Langit.” (Rumi, “Matsnawi”, al-Kitab al-Awwal)
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Buah pertama dari iman sejati adalah kasih sayang. Sebuah hati tanpa kasih sayang tidak akan hidup. Ucapan Basmalah, yg diucapkan sebelum melakukan sesuatu, & al-Fatihah, menyebutkan sifat ilahiah Rahman (Yang Maha Pengasih) & Rahim (Yang Maha Penyayang). Sejarah hidup para rasul & wali penuh dengan kisah yg berkaitan dengan kasih sayang. Cara terbaik untuk menanamkan kedua sifat ilahiah ini & mengintegrasikannya ke dlm karakter kita adalah dengan memelihara cinta universal di hati kita.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Rumi berulang-ulang menjelaskan bahwa penyucian jiwa merupakan hal esensial untuk pembentukan hati yg indah. Hati yg penuh cinta. Berproses menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) menjadi sebuah keniscayaan bagi manusia demi menumbuhkan sayap-sayap cinta yg akan membawa kita terbang menuju bentangan langit yg indah. “Ketahuilah, bahwa langit yg berputar, bergerak oleh deburan gelombang cinta; seandainya bukan karena cinta, dunia akan mati membeku.” Lalu nampaklah awan yg menaungi apa pun, siapa pun. Menderaslah hujan yg membasahi bumi & sekalian penghuninya, apa pun, siapa pun. Terbitlah matahari yg menghangatkan apa pun, siapa pun. Sayap-sayap cinta mampu bergerak menembus sekat-sekat perbedaan. “Cinta datang untuk menyatukan, cinta datang bukan untuk memisahkan.” Rumi percaya bahwa cinta adalah kekuatan kreatif paling dasariah, yg menyusup ke dlm setiap makhluk & menghidupkan mereka. Cintalah yg bertanggung jawab menjalankan evolusi alam dari materi anorganik yg berstatus rendah menuju level yg paling tinggi pada diri manusia.

Rumi sendiri mengakui bahwa rumit sekali menjelaskan perihal cinta. Ia berada di luar deskripsi apa pun. Ia harus dialami. “Segala sesuatu menjadi lebih jelas ketika ditafsirkan, kecuali cinta ini.” Tapi, lanjut Rumi, pengaruh cinta dapat dilihat dg jelas. “Karena cinta, yg pahit menjadi manis. Karena cinta, bijih tembaga menjadi emas. Karena cinta, noda menghilang. Karena cinta, rasa pahit menjadi obat. Karena cinta, yg mati dibuat hidup. Karena cinta, sang raja menjadi hamba.”
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
________
Mari bersama-sama hadir di acara Madrasah Rumi yg penuh cinta untuk belajar menghadirkan universalitas cinta dlm kehidupan yg fana ini.

Sabtu, 12 Oktober 2019
Java Cafe
19.00 – 23.00 WIB
______________
Daftar Bacaan:

1. Jalaluddin Rumi, “Matsnawi – al-Kitab al-Awwal”, al-Majlis al-A’la ats-Tsaqafah, Kairo, 1996.

2. Osman Nuri Topbas, “Tears of the Heart: Ratapan Kerinduan Rumi”, Mizan, Bandung, 2015.

3. Mulyadhi Kartanegara, “Jalal Al-Din Rumi: Guru Sufi dan Penyair Agung”, Teraju, Jakarta, 2004.

comments