Cinta Kasih, Kebudayaan dan Keimanan

Cinta Kasih, Kebudayaan dan Keimanan

Perbedaan adalah suatu keniscayaan, dan perbedaan adalah suatu keindahan, kita semua tahu bahwa dalam kehidupan ini kita sering menemukan dan mendapati hal hal yang berbeda atau kebalikan dari segala sesuatu, seperti hal ada malam ada pagi, ada tinggi ada pendek, dan lain sebagainya.

Pun dengan keagamaan, perbedaan tidak menjadi suatu hal yang menjadi tabu, bahkan islam mengenal dan mengetahui perbedaan ini dalam kitab suci Al-Qur’an, yakni dalam Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 13 yang artinya “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” , perbedaan ini membuat kita belajar bahwa kehidupan ini sangatlah luas, dan persoalan kita dari bangsa mana, suku mana, agama apapun kita adalah satu dalam persoalan kemanusiaan.

Tulisan ini dibuat karena termotivasi dari sebuah acara diskusi / dialog yang diadakan di Pondok Pesantren At-Tamur, Cibiru Kota bandung, dimana dalam diskusi tersebut dihadiri oleh Kyai Syamsu atau yang sering dikenal dan mashur dikenal dengan sebutan Om Syamsu sebagai pimpinan pondok pesantren At-Tamur, juga dihadiri oleh Kang Wawan Gunawan dari JAKATARUB , juga hadir ditengah tengah diskusi tersebut Pak Ketut mewakili pembicara dari Agama Hindu .

Dialog terjadi dengan sangat begitu menarik dan mengalir diantara 3 pembicara diatas, karena seringkali perbedaan antara yang satu dengan yang lainya menyebabkan pertentantangan dan permusuhan, namun pada diskusi dan dialog kali ini yang muncul adalah rasa kasih dan rasa cinta antara agama yang satu dengan agama yang lain, antara manusia yang satu dengan manusia yang lainya.

Pada dialog disampaikan oleh Kyai Syamsu, bahwa pertemuan demi pertemuan mesti dan harus sering dilakukan antara agama yang satu dan agama yang lainya, sepertihalnya pada dialog hari ini, dimana adanya proses dialog antara agama islam dan agama hindu, kita mesti saling belajar dan mengetahui antara satu sama lain, bukan untuk kemudian kita menjadi hindu yang islam ataupun islam yang hindu, namun pada pertemuan dialog dialog ini kita menemukan sebuah kebaikan dan sebuah keindahan, karena penting bagi kita untuk terus menjaga ukhuwah Basyariyah, atau Ukhuwuah Insaniyah yakni antara manusia yang satu dengan manusia yang lainya.

Melihat penyampaian dari kyai samsu, memanglah sangat menarik, proses dialog dialog antar agama sangat penting untuk dilakukan untuk kemudian nantinya kita bisa saling ber-toleransi antar sesama pemeluk agama, ketika kita paham dengan ritual ritual agama hindu ataupun agama yang lainya, kita patut untuk menghargai apa yang menjadi kepercayaan mereka dan ritual ritual keagaman yang mereka lakukan.

Apalagi kita sebagai masyarakat indonesia yang majemuk, berbeda suku, ras, budaya dan agama, melihat perbedaan haruslah dengan bijak dan tidak menjadi hal yang tabu, karena kita bagian dari satu bangsa yang sama, satu bahasa yang sama yakni indonesia, bhineka tunggal ika yang telah menjadi falsah bersama antar rakyat dan masyarakat indonesia harus menjadi pegangan kuat dalam menjalin hubungan antar manusia atau ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathoniyah, seperti yang dikatakan oleh oleh para alimil ulama Hubbul Wathon Minal Iman “Mencintai Tanah air adalah bagian dari iman” hal ini sudah mashur dan menjadi falsah juga bagi kebanyakan masyarakat muslim yang ada di Indonesia.

Dialog ini pun berjalan sangat interaktif, pada kesempatan selanjutnya Kang Wawan Gunawan menyampaikan Bahwa, Keimanan antara Hindu dan Islam ada kesamaan meskipun memang berbeda dalam konsep keimanannya, seperti penafsiran mengenai Tuhan Yang Maha Esa yang kemudian dipahami oleh islam sebagai ketauhidan, begitupun yang ada pada agama hindu dengan konsep dewanya, beliau sempat menjelaskan mengenai terminologi kata dewa, beliau menyampaikan bahwa kata dewa secara bahasa berasal dari kata “Deva” atau “Devanagari” yang berarti makhluk suci atau kesucian, dan manivestasi dari Brahman (Tuhan Yang maha Esa), maka dalam hal ini ada kesamaan dalam memaknai tuhan yang maha esa meskipun dengan konsep yang berbeda.

Juga persoalan adanya perbedaan agama menurutnya adalah suatu keindahan dan kebaikan, perbedaan ini memotivasi kita bersama untuk saling berlomba dalam kebaikan seperti yang ada dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 148 yang artinya “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan”. Maka perbedaan kita harus dimaknai untuk berlomba lomba dalam kebaikan, dan puncak dari keagamaan adalah kebaikan itu sendiri, jangan sampe kita mengaku sebagai muslim yang baik namun tidak bisa berbuat baik kepada siapapun, atau kita mengaku kristen dan hindu yang baik namun bisa berbuat baik terhadap sesama manusia, maka puncak dari keagamaan sendiri adalah kebaikan dan rasa cinta. Seperti apa yang dikatakan oleh K.H Abdurahman Wahid (Gusdur) “Tidak Penting apa agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua manusia, maka orang tidak akan pernah bertanya apa agamamu”

Melihat dari penyampaian kang wawan, memang perbedaan yang ada harus kita maknai untuk kebaikan, dalam hal ini berlomba lomba dalam kebaikan, maka ketika sudah bisa saling mengisi dan memberikan kebaikan kepada sesama manusia, maka akan timbulah rasa cinta kasih antara sesama manusia.

Penyapaian selanjutnya disampaikan oleh pak ketut selaku pembicara dari Hindu, beliau menyampaikan rasa kebahagiaanya bisa bertemu dan berdialog bersama, bahwa perbedaan ini adalah suatu kekayaan ciptaan tuhan yang perlu kita syukuri. Pada dialog juga beliau menyampaikan bahwa dalam beberapa istilah yang ada dalam islam sendiri banyak kesamaan bahkan berasal dari kebiasaan dan budaya hindu, sebelumnya beliau menjelaskan mengenai arti dari salam hindu yakni “Om Swastiatu” yang berarti “semoga selamat dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Lanjut beliau menyampaikan bahwa dalam ajaran Hindu sendiri bahwa puncak dari agama hindu adalah pelayanan kepada makhluk lainya atau manusia lainya, karena menurut beliau dalam jiwa manusia terdapat percikan percikan ketuhana atau ilahiyah, maka proses memberikan kebaikan dan rasa cinta adalah bagian dari pada proses kita menuju ilahi, atau menuju tuhan.

Pernyataan tersebut sangatlah menarik, bahwa kita belajar, bahwa keseriusan kita dalam menjalankan agama adalah sudah sejauh mana kita bisa berbuat baik kepada sesama manusia ataupun dengan makhluk lainya, seperti apa yang dikatakan oleh Mahatma Ghandi “The greatness of humanity is not in being human, but in being humane.” Yang artinya “Kebesaran kemanusiaan bukanlah dalam menjadi manusia, tetapi dalam menjadi sosok manusiawi”.

Penulis
Moch Gani Asyauqi

comments