BOM BUNUH DIRI, BERTENTANGAN DENGAN SILA KE 2

25

Roadshow Pancasila dan Kebangsaan, bertema “Menguatkan Diri dalam Ber-Indonesia”

BOM BUNUH DIRI, BERTENTANGAN DENGAN SILA KE 2

Air Gegas-Bangka Selatan. PW GP. ANSOR terus melanjutkan Rodshownya. Tadi berlangsung di Balai Desa Benca, Air Gegas yang dihadiri 300-an peserta dari remaja masjid, siswa siswi SMA, pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan birokrat, seperti Kades Air Gegas, Nyelanding, Tepus, dan lain lain.

Sebagai narasumber adalah Ust Salahuddin al Ayyubi, Sekretaris Camat (Bapak Sanol), Ketua BPD Benca (Zulkarnain), dan Ketua PW GP ANSOR, Masmuni Mahatma yang sekaligus Dosen STAIN SAS.

Dalam pengantarnya Ust Salahuddin al Ayyubi mengingatkan agar pelajar memilih organisasi kelak dengan cermat saat melanjutkan studi. Ini biar tak salah dalam mengembangkan diri dalam berbangsa.
“Siswa – siswi yg akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, agar berhati-hati dlm mengikuti organisasi-organiasi yg ada di kampus. Lebih baik bergabung dgn organisasi – organisasi yang sesuai dengan kultur budaya daerah kita, tidak bertentangan dgn moral – moral kebinekaan.”

Sementara Sekretaris Camat Air Gegas, Bapak Sanol menegaskan bahwa
“Pancasila tidak bisa kita pisahkan dlm kehidupan sehari – hari. Jangan jadikan perbedaan sebagai perpecahan.
Bijaklah dalam bermedia sosial, karena media sosial bisa membuat kita maju, tp juga bisa merusak keutuhan NKRI.” Di sisi lain, Ketua BPD Desa Bencah, Zulkarnain, mengingatkan bahwa
sebagai generasi penerus harus mnjaga keutuhan NKRI, karena bangsa Indonesia berdiri lewat proses yg tidak mudah, banyak para pejuang kita yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Oleh karena itu jangan jadikan perbedaan sebagai perpecahan. Indonesia ini lahir dari keberagaman.”

Sementara Masmuni Mahatma, Ketua PW GP ANSOR BABEL menegaskan bahwa tak ada yang salah dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Pancasila menurut Masmuni, sudah sejalan dengan semangat dan nilai syar’i. “Bhineka Tunggal Ika itu falsafah negara kebangsaan yang sangat aspiratif dan aplikatif. Ia sangat familiar dengan adat istiadat masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Sila sila Pancasila adalah cerminan dari kedalaman nilai al-Quran dan Sunnah Nabi.” Bahwa masih ada kelemahan di sana sini, menjadi bagian dari langkah kita untuk terus berbenah. “Bahwa banyak kelemahan secara praktik, itu nyata. Tak perlu ditarik terlalu tendensius. Dibutuhkan ketulusan kita untuk bersama sama membenahinya. Ledakan bom bunuh diri yang marak beberapa hari ini, tentu sangat bertentangan dengan sila kedua; kemanusiaan yang adil dan beradab”, pungkasnya.

Comments

comments