Bilik Pesantren Menembus Tatanan Sosial dan Keutuhan Bangsa

62

Oleh: Hapid Ali (Pengurus PW Lakpesdam NU Jawa Barat )  
   
Sejarah Indonesia dalam pembentukan karakter bangsa tidak terlepas dari peran dan perjuangan pesantren.  

Apabila kita rumut dari belakang sejak awal munculnya kedatangan Islam, terutama pada masa walisongo, penjajahan, masa kemerdekaan, reformasi  hingga kini, peran pesantren telah memberikan sejuta sumbangsih yang tak ternilai harganya bagi Indonesia dalam pembangunan bangsa terutama pengembangan si’ar Islam yang rahmatan lilalamin.

Peran walisongo yang merupakan panglima perang kerajaan Demak merupakan generasi awal yang membentuk peran pesantren dalam membentuk karakteristik Bangsa dan tatanan sosial menuju tatanan bangsa yang bermartabat di dunia Internasional.

Dari jasa walisongo, ini telah melahirkan santri dan ulama yang siap membangun bangsa dan mengusir penjajahan seperti pangeran dipenogoro, Teuku Umar, dan kiai Mojo yang jarang diperbincangkan oleh kaum akademisi padahal apabila kita kaji sedikit terkait dengan sosok Kiayi Mojo, beliau merupakan ulama tradisional yang memperjuangkan Kemerdekaan dan menumbuhkan jiwa Nasionalisme pada semua kalangan, beliau telah mentransferkan femahaman nilai Nasionalismenya baik di wilayah Nusantara, Timur Tengah begitu juga Internasional secara global.

Beliau merupakan kiayi Nusantara nyentrik dimana pemikirananya selalu menyejukan hati yang menumbuhkan karakter Islam yang dinamis dan menumbuhkan sepirit nasionalisme.

Pada kurun waktu tahun 1900an muncullah ulama besar dimana pemikiran dan langkah beliau di ikuti oleh Hadratu Syekh KH. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama) beliau dikenal sebagai ulama yang mempunyai semangat besar dalam membangun spirit Islam dan Hubbul Wathonnya (Nasionalisme) dalam mengusir penjajahan, termasuk KH. Wahab Hasbullah (Pendiri dan Tokoh Nahdlatul Ulama), HOS Cokroaminoto, (Pendiri Sarekat Islam) dan KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) mereka juga merupakan ulama besar yang memberikan jasa besar terhadap kemerdekaan Bangsa ini.  

Pada masa kemerdekaan, muncul nama-nama seperti KH. Wahid Hasyim, KH. Saefudin Juhri, M.Natsir, dan Buya Hamka. Adpun  pada masa sekarang KH. Maemun Zubair, perannya dalam dunia politik dan pengembangan Agama Islam memberikan sumbangsih yang begitu besar pada pembangunan bangsa ini.

Adapula KH. Sahal Mahfud Ketua Syuriah PBNU priode 1999-2009, beliau hati-hati dalam bersikap dan mumuni d bidang keilmuan khusunya d bidang fiqih, dan KH. Abdurrohman Wahid yang lebih akrab dengan panggilan Gusdur beliau merupakan tokon NU yang memberikan pengaruh besar dalam menjaga keutuhan bangsa dan tokoh pluralisme dalam menumbuhkan nilai toleransi yang tinggi antar umat beragama.  

Dan kemudian Din Syamsudin, KH. Hasyim Muzadi merupakan ulama besar yang turut membangan Bangsa dan menjaga keutuhan NKRI ini. Melihat realita tersebut, sejarah tidak dapat memungkiri betapa besarnya peran dan kontribusi pesantren bersama Kiayi, begitupula semua santri dalam berbagai kiprahnya baik pada masa pra kemerdekaan, kemerdekaan, dan kontek saat ini.

Mereka semua merupakan tokoh tanpa tanda jasa yang selalu membentuk tatanan sosial yang beradab dan memberikan kontribusi besar dalam pembangunan bangsa. Akan tetapi, realitanya masih ada beberapa pandangan miring terhadap peran pesantren pada bangsa ini.

Pesantren dianggap mengajarkan nilai radikalisme, ekstrimisme, kemajuan yang dianggap tidak relevan dengan kontek saat ini. Akankah kita terus meragukan peran dan kontribusi pesantren untuk bangsa ini? Ini sudah sepatutnya bahwa bangsa dan negara ini mendorong dan memberikan peran aktif dalam memperhatikan pengembangan pesantren di Indonesia.

Termasuk perhatiannya terhadap kiayi dan santri di Tanah Air ini. Karena seperti kita fahami bersama bahwa dalam kontek saat ini fungsi pesantren bukan sebatas fokus pada aspek ibadah, tabligh, perubahan sosial masyarakat tapi mempunyai peran penting dalam mengawal keutuhan bangsa secara global pesantren menjadi agent of change dalam tatanan sosial.

Seperti apa yang sudah disampaikan oleh Muhakammurohman, (Hal.110, Vol. 12, No. 2 Juli-Desember 2014), menyatakan bahwa  “pesantren adalah kawah candradimuka bagi para santri sebelum benar-benar diterjunkan ke medan pertempuran (dalam keberagaman sosioriligious dan antropologis bangsa Indonesia) dalam tatanan sosial”. 

Ini senada dengan Mohammad Nasir (Menristekdikti) Subang Jawa Barat, Selasa, (23/52017) yang menyatakan bahwa “Pesantren adalah tulang punggung untuk menciptakan kedamaian di Indonesia”. 

Ini dapat di interpretasikan bahwa pesantren mempunyai peran yang begitu besar yang menjadi partner pemerintah dan bangsa dalam menjaga keutuhan bangsa ini karena menurut data statistik yang disampaikan oleh Kementerian Agama mencatat bahwa populasi santri pondok pesantren di 33 provinsi diseluruh Indonesia mencapai 3,65 juta dari 25.000 pondok pesantren.

Artinya bahwa pesantren merupakan elemen yang penting dalam membangun karakter Bangsa dan menjadi asset kemajuan bangsa.

Maka seharusnya bangsa dan pemerintah memperhatikan pesantren baik dalam aspek ekonomi dan pendidikannya. Berbicara aspek ekonomi dipesantren, ini masih menggunakan pendekatan ekonomi kerakyatan dimana peran pesantren dalam menumbuhkan kesejahteraan pada tatanan sosial masyarakat bukan terkait dengan aspek moral pendidikan dan agama saja melainkan dalam aspek ekonomi.

Ekonomi yang berbasis kerakyatan ini merupakan strategi dalam memajukan kesejahteraan masyarakat baik dari segi pertanian, peternakan, perdagangan dan tak mau kalah banyak beberapa pesantren yang mencoba pendekatannya dalam mengembangkan skill semua santrinya dalam aspek tekhnologi.

Semua itu dilakukan untuk mengontrol dan mengimbangi dengan tuntutan jaman dalam memberikan kontribusi pada masyarakat tentunya pada bangsa dan Negara ini.

Dalam aspek pendidikan, pesantren melakukan beberapa strategi dalam mengembangnkan proses pendidikannya baik itu dengan melakukan pendekatan dalam bentuk pendidikan pesantren, seperti bentuk pendidikan pesantren tradisional (Salafiyah) karakteristik dari pesantren tersebut mengadopsi pengajaran kitab yang ditulis oleh Ulama abad ke 15 M dengan menggunakan bahasa Arab.

Dari penyajian kurikulumnya, semua kebijakan dipegang sepenuhnya oleh Kiayi pengasuh pondok pesantren. Santri yang menuntut ilmu di pesantren tersebut itu terbagi dua yaitu; ada yang menetap di pesantren (santri mukim) dan santri yang tidak menetap dipondok pesantren (santri kalong) system pengajarannya masih menggunakan sitem sorogan dan bandongan.

Adapun bentuk pendidikan Pesantren Modern (Khalafiyah) karakteristik dari pendidikan pesantren ini merupakan pesantren yang mengintegrasikan system klasik dan sekolah kedalam pendidikan pesantren.

Perkembangan system ini sangat menarik untuk kita amati karena system ini secara keseluruhan system ini sedikitnya akan mempengaruhi system tradisi pesantren, termasuk system kemasyarakatan, Agama, dan paradigma.

System dari kurikulum pendidikan ini mencoba untuk mengintegrasikan pengetahuan umum dengan ajaran Agama seperti ilmu sosial, politik, bahasa, pengetahuan tersebut selalu di sinergiskan dengan ajaran Agama.

Perbedaan jenis pendidikan pesantren ini bukan berarti bahwa pesantren memiliki kerangka dikotomi yang ketat, akan tetapi ini merupakan suatu iklim sosioreligius dan antropologis dimana terdiri beranekaragam peran dalam pola hubungan sosial perkembangan masyarakat saling berkaitan satu sama lain.

Ini semata dilakukan untuk mengontrol dan mengimbangi perkembangan jaman dalam membangun karakter bangsa. Penguatan pendidikan dan moralitas yang tinggi merupakan proses perubahan tatanan sosial dalam membentuk karakter bangsa yang beradab.

Pesantren bukanlah sebuah system tatanan pengajaran yang membentuk santri-santri yang radikal dan ekstim justru itu sebaliknya pesantren memberikan wawasan kebangsaan, dan menumbuhkan nilai-nilai Agama dan moralitas yang begitu tinggi seperti menumbuhkan nilai gotong royong, toleransi antar sesama, cinta kasih, tanpa melihat perbedaan.

Kita sebagai warga Negara termasuk pemerintah seharusnya peduli dan memperhatikan pengembangan pesantren yang ada di tanah air ini Karena pesantren merupakan elemen penting yang sudah memberikan kontribusi besar semenjak dari abad ke 15 sebelum kemerdekaan sampai sekarang ini.

Inilah yang disebut dengan bilik pesantren yang menembus tatanan sosial dan keutuhan bangsa dimana Nur Ilahi tertanam dalam diri kiayi dan santri dalam merubah tatanan sosial menjadi struktur sosial yang dinamis, toleran dan memiliki intelektualitas dan integritas yang tinggi dalam menjaga keutuhan bangsa.

       

Comments

comments