BerIPNU-IPPNU Jaminan Terbaik bagi Masa Depan NU.

93

Oleh : Hasan Malawi
Pentingnya ber-IPNU IPPNU ialah kita membentuk segala macam kerangka NU itu dengan mematangkan Aqidah, Fikroh, Amaliyah, Syiasyah ala Nahdlatul Ulama.

Memasuki gelanggang NU semenjak dini tidak lain kita beranjak dari kesadaran kuktural menjadi kesadaran sturtural, dari Jama’ah ke Jam’iyyah dari Individu menjadi kolektif.

Intinya berIPNU-IPPNU itu mengidentitaskan diri semenjak dini, memperluas jejering kekuatan sesama warga NU, menempa kedewasaan dalam mengembangkan talenta, belajar mengorganisir potensi, memetakan jejaring warga NU, membiasakan dalam melakukan khidmah bagi masyarakat sampai pada menentukan keberpihakan pada nasib dan keadaan yang dialami oleh Warga NU.

Apa yang dialami kita dalam traktat tradisionalime, turost, khazanah keilmuan dan amaliyah. Tidak lah cukup tanpa bisa diorganisir dengan baik.

Elan vitalnya suatu kekuatan tidak lah mungkin bisa bergerak lebih maju tanpa adanya aktor-aktor yang terampil dengan terus-terusan menggerakan kesadaran serta membawa banyak perubahan. Meraka inilah yang menjadi tulang punggung dengan penempaan kuat yang didapat dari pengalamnya selama berproses.

Meraka ini terbagi dua hal yang saling menguatkan. Frasa awal kita mengenalnya sebagai Anggota, suatu istilah yang ditunjukan bagi aktivis pemula, selesai di-Makesta-kan.

Meraka ini berasal dari berbagai latar belakang: dari Pesantren, Pemuda Desa, Irmas, Sekolahan sampai Kampus. Frase kedua kita sebut sebagai Kader, secara kwantitas, kader ini lebih sedikit dari pada Anggota, apabila di Makesta kita bersentuhan dengan mengenalkan kembali “Aqidah, Fikroh, Amakiyah, Syiasyah NU”.

Maka sebagai Kader, takaranya ialah mengejawentahkan dalam kehidupan sehari-hari, menopang tanggung jawab dalam roda organisasi serta menjadi bandul penentu dari maju atau mundurnya suatu Pimpinan dibaerbagai tingkatan.

Selain menakar integritas, Ahlak dan kepribadian. Kader itu personality branding atas organisasi, apabila kader itu baik, maka citra organisasi juga baik begitu pun sebaliknya.

Personalitas kader lah yang akan menetukan maju-mundurnya, progresif tidaknya, konsisten inkonsistenya, dinamis-statisnya, berkembang atau jumudnya suatu Ikatan.

Personalitas ini tidak hanya didasari oleh basis pengetahuan yang matang, penguasaan atas Kitab Kuning atau kajian Kontemporer, senantiasa memantik semangat literasi, atau memiliki kecakapan dalam memenejemen pembagian peran dan distribusi potensi, mengikat emosional sebagai penggalangan solidaritas dan kebersamaan.

Kader juga mesti bisa memetakan jejaring, menguasi medan dan teritorial, agar mampu berkomunikasi baik dengan beragam karakter serta mengatur ritme kepentingan. Sehingga potensi unsur produktif itu bisa mengarah dari kepentingan personal menjadi komunal.

Setiap kader dituntut bisa menghadapi situasi apapun, agar tidak terjadi dinamika yang mengarah pada pembusukan dari dalam atau membenturkan dengan unsur lain yang arahnya melemahkan komponen inti dari organisasi atau suatu kepempinan.

Pengalaman dalam mengatasi dan mengelola konflik serta kedalaman dalam membaca situasi dan reaksi yang berkembang inilah yang nantinya akan menentukan suatu keputusan yang arahnya berakibat pada dua hal, apakah maju dan berkembang atau malah terpelosok munduk dan terbelakang.

Jadi, sudah terang bukan kalau Kaderisasi adalah ruh dari IPNU IPPNU, apabila kita tidak berada dalam ruang-ruang pengkaderan, mengawal dan mempersiapkan tentu kita tidak bisa memastikan apakah Organisasi ini akan lebih baik kedepanya.

Sebab di dalam pedoman pengkaderan kita, tidak bisa memperlakukan secara instans atau bergaya parlente dan elit. Semisal, Kaderisasi kita sebatas manggung, menyampaikan materi tidak ada pengawal, pengawasan, perawatan.

Menjadi wajar kalau kualitas kader kita tidak terdidik-terorganisir-terpimpin. Sekali kita menanggalkan Kaderisasi sebagai ikhwal seremonial, seketika itu juga kita memutus unsur-unsur maju dan produktif didalam organisasi.

Apabila ini terjadi, akan sangat memungkinkan kalau sistem dan keberhasilan pengkaderan kita hanya menghasilkan kader-kader reaksioner tanpa prespektif, melakukan kerja-kerja pengorganisiran secara serampangan, senang mengklaim dan sebatas menjadi kepanjangan tangan dari suatu kepentingan. Mereka terbentuk karna siklus yang rapuh serta tidak ditempa dengan baik, sedikit pendekatan keilmuan sebagai dasar, minim pandangan maju yang mengkreasikan potensi produktif menjadi suatu kekuatan.

NU, boleh dikatakan sebagai kegiatan yang berkahi lagi penuh lapisan manfaat, NU juga boleh dikatakan sebagai penjaga gawang Aswaja An-nahdlliyah yang mengantar kemaslahatan dunia dan akhirat, tetapi unsur-unsur doktrinasi tidak begitu saja menjadikan seseorang yang bergerak didalamnya menjadi sosok yang militan dan progresif tanpa pergolakan dan benturan yang dialami dalam beragam dinamika selama berproses yang dijalaninya.

Membentuk seseorang yang punya loyalitas dan keterampilan dalam memimpin serta kedewasaan ketika dipimpin tidak turun begitu saja dari langit, tapi butuh ikhtiar, ketelatenan kedispilinan yang mesti dilaluinya dalam satu tarikan nafas yang panjang.

Jadi mau apa kalangan muda NU yang notabanenya Palajar, Pemuda Desa, Mahasiswa atau pun Santri. Masih mau ditinggal semangat zaman, masih mau BerNU hanya karna kebesaran, glorifikasi tanpa mau membesarkan tanpa mau menggelorakan.

Loh, Buya Said Aqil aja dulunya aktif di IPNU, Gus Dur juga, hampir semua tokoh besar NU pernah aktif, menghidupi dan berkontribusi bagi organisasi pengkaderan NU paling bawah ini.

Gensi karna putra Kiai, minder karna IPNU isinya kalangan bawah, apalagi karna IPNU gak punya Daya Jual, atau karna sejumlah alasan yang ditumpuk sebab berIPNU itu buang-buang waktu. Bahkan yang lebih parahnya malas berIPNU karna minim relasi elit yang bisa menopang karir, loncat sana-sini mendulang kepentingan pribadi.

Yaa ayyuhal muddatstsir—Qum fa andzir.” 

hai Orang-orang yang berselimut ayo bangunlah, beri peringatan. Hei kaum muda NU yang bermalas-malasan segera bangkit menggerakan persatuan.

Kalau sebab Putra Kiai, semestinya lebih giat lagi, kenikmatan punya nasab itu mesti sepunggung dengan tanggung jawab, Zaman sudah banyak berubah, yang ngaristokrat dan tak mau bergumul, malah memilih berleha-leha di kerajaan kecil, berarti sama saja memutus mata rantai perjuangan Bapakmu, perlu diingat, NU besar karna menjaga sanad, menjaga silsilah perjuangan.

Jadi, apabila leluhur kita berjuang dengan darah, kita berjuang mesti melebihi dengan daging pula, yah setidaknya meneruskan itu lebih shahih dari pada jumud membiarkan begitu saja.

Atau minder, karna watak kita sudah terbentuk eksklusif Zaman Now yang katanya mesti trendy, mengikuti pasar model, sehingga kalau berkawan orang desa seolah menurunkan “Muru’ah“, tak sederajat. Mikir begitu berarti itu kepala sudah nyaman dengan watak kolonial yang senengnya membatasi dan dibatasi.

Justru dengan kita terus berdekatan dengan pemuda desa, kita akan tahu akar permasalahan yang sebenarnya, kita akan ditempa kesabaran dan ketelatenan bagaimana bisa kaum muda NU itu terdidik, terpimpin dan terorganisir.

Apa artinya sekolah tinggi-tinggi, ngaji kitab tebal-tebal kalau dijauhkan dari persoalan kehidupan. BerIPNU itu akan memberi kepahaman bahwa banyak kompleksnya persoalan Warga NU itu. Dari mulai yang yang dibawah garis kemiskinan yang Wong NU, keterbelakangan yang banyak wong NU, sampai krisis Aqidah dan Ideologi juga banyak dari kalangan NU. Mau mulai kapan kita berada di tengah-tengah masyarakat bawah untuk sama-sama mempertahankan hajat hidup dan kesejahteraannya..?

BerIPNU itu mendekatkan kita pada Ulama, menselaraskan khidmah kita semenjak dini mula, kita akan ditempa secara pengetahuan, membangun akses dan jaringan sesama orang NU dengan berbagai latar belakang. Setidaknya kita mengetahui akar dan identitas, mana yang kita perjuangkan dan untuk apa kita memperjuangkanya.

Tahu kenapa, gerakan transnasional mengrogoti kaum muda NU dari berbagai arah, mulai dari Rohis, Aktivis Kampus yang tanpa disadari menjelma jadi sarang Radikalisme dan Terorisme, sampai yang menelan fatwa keagamaan setengah-setengah, antar salah faham sampai fahamnya yang salah.

Mari BerIPNU dengan riang gembira, menjaga Tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-Nahdliyah.

Hasan Malawi.
Wakil Ketua 2 Kaderisasi PW IPNU Jawa Barat.

Comments

comments