Beragama Di Indonesia

218

Oleh: Nizar Maulana Malik
(Kader GP Ansor Kabupaten Purwakarta)

Tak perlu reaktif, tak perlu panik, karena dengan ketenangan, kita jadi bisa melihat segalanya lebih jelas. Isu sensitif “Banser Jaga Gereja” pada dasarnya akan selalu diangkat tiap tahun. Selalu saja begitu.

Selain itu, masalah haram mengucapkan selamat natal, isu perbedaan tanggal lebaran NU-Muhammadiyah juga selalu diangkat tiap tahun. Lebaran pun kita dibikin saling bermusuhan. Selalu juga, isu-isu skala lebih kecil diangkat hampir tiap hari, tahlilan, ziarah kubur, qunut, jumlah rakaat sholat tarawih, dan lain sebagainya. Kalau kita amati, jangan-jangan ada “VOC-Syari’ah” di Indonesia ini, yakni melakukan adu domba dengan memakai alasan agama.

Indonesia itu negara yang luas, subur tanahnya, kaya sumber daya alam, dan banyak penduduknya. Kita harus hati-hati. Di Indonesia, yang mayoritas adalah umat Islam, maka dari itu selalu yang diangkat-angkat adalah isu agama. Kenapa demikian? Karena bangsa Indonesia terkenal bangsa yang sangat ramah, tapi hanya bisa marah hanya karena isu agama.

Buktinya, Presiden RI mau melawan freeport, rakyat kita sama sekali tidak marah.. Buktinya lagi, rakyat kita justru senyum-senyum dan minta foto bareng kalau bertemu turis asing, sekalipun turis asing nya orang Belanda. Buktinya lagi, rakyat kita santai-santai saja naik motor pabrikan Jepang. Padahal, Belanda dan Jepang pernah menjajah Indonesia, berarti bangsa kita genetiknya bukan bangsa pemarah dan pendendam.

Lantas, kenapa bisa marah karena isu agama? Itu karena bangsa kita yang mayoritasnya umat Islam, banyak yang terdidik untuk takut neraka dan ingin surga.Tidak dididik untuk segan dan sayang pada Allah SWT, apalagi didorong untuk lebih mengenal Nya. Itulah kenapa isu agama bisa bikin bangsa ini pecah.

Ini sudah masalah psikologi budaya.Hidup di Indonesia itu tidak enak, maka banyak yang ketakutan setelah meninggal, karena takut masuk neraka. Jangan heran akhir-akhir ini banyak sekali orang berlagak kyai, sedikit-sedikit pakai dalil. Jangan sampai, mau menolong orang yang tabrakan pun, ditanya apa agamanya.

Suatu ketika, di daerah ku ada orang yang nekat menjatuhkan dirinya ke dalam sumur, kejadian nya bertepatan dengan waktu sholat jum’at. Namun apa yang terjadi? Orang-orang yang mengetahui kejadian tersebut, lebih memilih menyelesaikan sholat jum’at dahulu, walhasil setelah sholat jum’at selesai, nyawa orang yang nekat menjatuhkan dirinya ke sumur tadi, sudah tidak tertolong lagi.

Contoh di atas itu sebenarnya dalilnya ada banyak, tapi kebanyakan orang-orang malah tidak tahu.. Bahwa sholat Jum’at boleh diganti dengan sholat dzuhur biasa, kalau memang ada urusan darurat. Bahkan, misalnya untuk mengurusi orang yang nekat itu makan waktu lama, sholat Dzuhurnya boleh saja digabung dengan sholat Ashar.
Saya memang bukan kyai, tapi saya mau terus belajar, Bukan hanya soal agama, tapi juga budaya dan nasionalisme.. Bangsa Indonesia terkenal bangsa yang ramah dan rukun tentram bukan karena agama Islam.. Sebelum agama Islam datang pun, bangsa nusantara sudah ramah-ramah dan rukun-rukun.

Ada agama Hindu masuk, kita terima. Ada agama Islam masuk, kita juga terima.. Kita pernah jadi bangsa mayoritas beragama Hindu bukan karena ditaklukan kerajaan India.. Kita sampai sekarang jadi bangsa mayoritas beragama Islam pun bukan karena ditaklukan kerajaan Arab. Hal itu harus kita camkan.

Bangsa kita tersentuh agama Islam melalui pendekatan budaya, bukan melalui politik yang rawan konflik.. Silakan Anda cek ke semua negara arab, apakah ada kegiatan lebaran, mudik, dan halalbihalal pasca bulan puasa? Ketiga kegiatan rutin kita itu bersifat budaya.. Itu tradisi hasil kearifan bangsa kita. Kita memang pada dasarnya berbudaya ramah, penuh cinta, dan saling menyayangi.

Jadi intinya, mari kita berbondong-bondong masuk Nahdhatul Ulama, Karena hanya NU lah yang konsisten menjaga budaya, menjaga negara dan menjaga agama .

Comments

comments