Belajar dari seekor Babi

91

Belajar dari seekor Babi

Oleh : A. Heri Kholilurrohman M. Pd

Tongtolang, gori, cécék, dan nangka merupakan istilah dalam bahasa sunda di beberapa daerah yang semuanya merujuk atau membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan buah nangka berdasarkan usianya. Demikian halnya sesuatu yang berhubungan dengan babi, mulai dari usia, bagian-bagian tubuh, dan bahkan karakteristik atau sifat yang mirip dengan babi dalam bahasa inggris memiliki istilah yang berbeda-beda.
Pig, pork, swine, hog, ham, dan sow, adalah istilah-istilah untuk babi dan atau untuk seluruh spesies babi. Sedangkan lard, bacon, dan porcine merupakan sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi. Ada yang lebih ekstrim lagi yaitu pengumpatan atau segelas minuman keras diidentikan dengan babi, dalam bahasa inggris memiliki makna snorter.
Melihat satu objek saja di dunia ini yang membahas tentang babi ternyata mempunyai banyak makna dan istilah. Bukan babi yang menjadi objek dalam tulisan ini, melainkan bagaimana manusia mempunyai banyak makna dalam kehidupannya.
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaat/maknanya bagi manusia yang lain”, demikian bunyi Hadits Riwayat Bukhari Muslim.
“Don’t try to be a man of success, try to be a man of value instead” Einstein berkata.
Ketika mendengar kata babi, seorang muslim pasti langsung mengerutkan dahinya sebagai tanda bahwa ada kesan kotor, jijik, bau, rakus dan haram yang tertanam dalam hatinya sejak kecil. Namun apakah sedemikian hinanya seekor babi? Mengapa pula dia diciptakan?
Suka-sukanya Allah menciptakan apapun di dunia ini, termasuk menciptakan makhluk yang menurut pandangan manusia hina, jijik, kotor, dan bau. Manusia hanya punya kewajiban untuk membenarkan dan beriman karena Allah. Segala apa yang Allah ciptakan pasti baik bagi kita.
Marilah merenung sejenak untuk memikirkan hakikat hidup ini.
Manusia terkadang merasa putus asa ketika usahanya bahkan dirinya merasa tidak dibutuhkan oleh orang lain. Manusia sering merasa putus asa saat orang lain sudah tak mau berkomunikasi lagi dengannya. Akhirnya manusia marah, kesal dan bertindak hal-hal yang merugikan orang lain.
Seekor babi mengetahui bahwa dirinya haram untuk dimakan oleh manusia ketika diciptakan. Tapi apa yang dilakukan oleh si babi itu?
Dia tetap bereproduksi walaupun Tuhannya sendiri mengatakan bahwa dirinya haram untuk dimakan oleh manusia. Tapi dia tidak marah, dan dia juga tidak berburuk sangka pada Tuhannya. Dia tetap hidup dan terus hidup hingga saat kematian dia datang. Sepanjang hidupnya, sebagai hewan dia dikendalikan oleh manusia. Manusia yang memilih apa yang akan dilakukan terhadap babi itu. Dia tetap yakin bahwa Tuhan pasti menciptakannya dengan tujuan yang baik, dan bahkan dia terus melantunkan ayat-ayat suci Al Quran yang mengatakan bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia di dunia ini, semua diciptakan dengan perhitungan yang sempurna. Itu yang dilakukan oleh babi.
Bagaimana dengan kita sebagai manusia? akankah kita menyerah begitu saja saat gagal datang? akankah kita menyerah saat usaha kita tidak dihargai oleh orang lain? Tetaplah lantunkan ayat-ayat suci Al Quran sebagai tanda bahwa tidak ada kejadian apapun yang menimpa diri kita kecuali atas skenario-Nya yang Maha Mengendalikan alam semesta ini sebagaimana seekor babi yang terus memuji Tuhannya.
Wallahu a’lam bishowab.
Semoga bermanfaat.

 

Comments

comments