Banser The Last Samurai Indonesia

2334

Malam ini ku habiskan tegukan terakhir kopiku dengan senyum kecut, di salah satu group WA yang ku ikuti ada yang mengirimkan video Banser sedang berjoget dangdut Pantura.

Aku tahu video itu di bagikan dengan niatan mengolok Banser, saat ini keberanian Banser memang sedang jadi sorotan. Sebagai orang yang pernah hidup di tengah komunitas Nahdhatul Ulama aku tahu betul seperti apa kehidupan Banser.

Mereka kebanyakan adalah orang lugu, petani desa yang tidak begitu paham politik namun mempunyai kecintaan berlebih untuk bangsa dan Agamanya.
Aku ingat betul ada seorang kawan, aku memanggilnya kang Nen.

Ia buruh bangunan tamatan MTS di pondok Pesantren Pringsewu, jangan ajak ia bicara tentang politik, siapa nama menteri Pendidikan saja ia tidak tahu.

Namun untuk urusan ketaatan pada Kyai, kang Nen adalah juaranya. Kemanapun Kyai pergi ia selalu ikut, bahkan membawakan sandal Kyai. Sekitar tahun 1998 saat geger kasus Ninja, kang Nen di perintah Kyai nya untuk ikut pendadaran (diklat dasar) Banser.

Untuk bisa membeli seragam Banser dan ikut pendadaran ia harus merelakan sepeda onthelnya di jual. Setelah itu hampir tiap malam Kang Nen berkeliling berjaga dari pondok pesantren ke pondok pesantren. Jangan tanya ia di bayar berapa, untuk beli rokokpun kang Nen beli eceran, itupun hutang.

Sekitar tahun 2001 saat Gusdur hendak di lengserkan lewat kudeta politik, Kang Nen adalah salah satu dari ratusan ribu orang yang berangkat ke Jakarta mendukung Gusdur, di luar ratusan ribu lainnya yang menunggu komando di Jawa timur.

Ia berangkat dari rumah hanya berbekal tongkat rotan, berkumpul di seputaran Jagakarsa. Mereka menunggu instruksi untuk bergerak dengan menggelar istigosah dan tahlil. Mereka marah karena Kyai mereka di dzalimi secara politik, namun kemarahan mereka di salurkan lewat dzikir.

Tidak ada pawai penuh amarah atau pengrusakan fasilitas umum. Mereka menunggu komando Kyai, toh harus berperang mereka siap. Tapi mereka tidak melakukannya. Saat itu negara berada dalam situasi darurat tentarapun sudah siaga.

Pada Kamis (23/1/2014) dalam diskusi Pemikiran Gus Dur – Demokrasi dan Pluralisme di kantor PBNU Mahfud MD menceritakan detik-detik menegangkan ini. Ia mengisahkan saat Gusdur menjelang di lengserkan, ada beberapa orang yang melobi Gusdur agar menerbitkan dekrit agar Indonesia menjadi negara Islam.

Namun dengan tegas Gus Dur menolaknya. Dia lebih baik jatuh daripada harus melawan Pancasila.

“Saat itu politik sedang panas, ada tujuh orang yang menyarankan Gus Dur untuk mengeluarkan dekrit merubah Indonesia menjadi negara Islam, Gus Dur lebih baik turun daripada harus melawan Pancasila” ujar Mahfud MD kala itu.

Banser punya keberanian untuk melakukan perlawanan terhadap mereka yang menzalimi Gusdur kala itu. Mereka juga memiliki modal yang cukup untuk menjadi simbol perlawanan, militansi dan jumlah massa adalah ancaman serius bagi tentara, namun keutuhan bangsa di atas segalanya.

Kalimat Gusdur kepada Gus Nuril selaku Panglima pasukan berani mati, membuat kemarahan Banser luruh. Kepada saya Gus Nuril mengisahkan petuah Gusdur kala itu,

” Gus, sudah jangan di teruskan kalau anak-anak itu ngamuk negara bisa bubar. Saya tidak ikhlas negara ini bubar, apalagi merubah haluan negara. Saya suka kebenaran tetapi lebih suka kemerdekaan dan ketentraman “.

Banser adalah singa yang tidur, mereka hanya patuh pada perintah Kyai, Politik mereka adalah apa dawuh kyai. Akhirnya kang Nen pulang bersama ratusan ribu kawannya. Mereka pulang dengan damai, tanpa aksi demo berjilid-jilid dengan nomor cantik.

Saat Banser Mencabut Katana

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Indonesia beruntung memiliki NU. Ormas yang oleh Rizieq dalam video ceramah di madinah di sebutnya sebagai kelompok tradisionalis. Berbicara komitmen terhadap bangsa, NU terbukti ikut berdarah mendirikan bangsa ini.

Berbicara jumlah massa dan khazanah keilmuan Islam, saya bertaruh anak-anak muda NU yang belajar di Pondok itu jauh lebih mumpuni di banding Felix Siaw. Mereka belajar Islam dari sumber babon, ilmu tafsir, bahasa arab dan gramaticalnya, kitab fiqh lintas madzhab, ilmu hadist hingga sex education adalah makanan mereka sehari hari di Pondok Pesantren.

Kematangan pengetahuan Agama, Militansi jamaah, jumlah anggota dan memiliki garis komando jelas adalah keunggulan NU yang sulit di tandingi oleh organisasi Islam manapun. Tetapi NU tidak jumawa, komitmennya selaras dengan amanah pendiri bangsa ini menjadi negara bangsa bukan negara Agama.

Dengan segala kelebihannya, NU adalah benteng akhir pertahanan bangsa ini. Dan ruh itu yang di jaga NU, di gaungkan dalam marsnya Ya lal wathon :

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon
Hubbul Wathon minal Iman
Wala Takun minal Hirman
Inhadlu Alal Wathon
Indonesia Biladi
Anta ‘Unwanul Fakhoma
Kullu May Ya’tika Yauma
Thomihay Yalqo Himama

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku
Cintaku dalam Imanku
Jangan Halangkan Nasibmu
Bangkitlah Hai Bangsaku
Indonesia Negriku
Engkau Panji Martabatku
Siapa Datang Mengancammu
Kan Binasa di bawah dulimu

Belakangan ini situasi tanah air mengharuskan kekuatan NU untuk kembali bangkit. Selama ini NU lebih banyak diam ketika dalam banyak kesempatan kelompok Islam ‘anyaran’ seperti HTI dan FPI terus menerus menuding kaum selain mereka sebagai kafir. Dengan seenaknya mereka memvonis negeri ini sebagai negeri thoghut dan kafir, tidak pakai hukum Allah. Gerakan Islam Nusantara di hujat NU sebagai jamaah liberal, penyembah kubur, tukang bidengah bahkan gelombang Fitnah di alamatkan pada pucuk pimpinan NU, tetapi NU masih bersabar.

Namun saat provokasi ini mengancam integrasi bangsa dan eksistensi Pancasila maka anak muda NU saatnya bergerak. Mereka bangkit melawan, musuh mereka adalah kelompok unyu unyu pemimpi basah Khilafah dan kelompok penebar benih radikalisme.

Banser juga GP Ansor menunjukkan kekuatannya menjadi penjaga NKRI. Di Makassar mereka bentrok dengan HTI. Di Bogor, GP Ansor dan Jakarta mereka menolak forum internasional khilafah HTI. Di Jombang, Tulungagung, Jember, Sidoarjo dan Surabaya sudah menyatakan dengan keras tidak memberi ruang bagi HTI dan FPI di Jatim. Di Cilacap, Banser dan GP Ansor menyerukan HTI untuk kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Di Semarang mereka menolak FPI.

Di Takalar GP Ansor dan Banser, gagalkan konvoi HTI. Di Bandung, mereka menolak deklarasi HTI. Di Purbalingga, GP Ansor dan Banser hampir saja bentrok dengan HTI. Di Rembang sikapnya sama usir kelompok pemimpi Khilafah

Berpuluh tahun NU menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia dalam kerangka agama yang sejuk dan berwibawa. NU ibarat klan keluarga Samurai Katsumoto dalam film The last Samurai. Mereka adalah orang orang yang tidak pernah melupakan cikal bakal mereka, mereka setia pada tanah kelahiran, adat istiadat, dan juga leluhur mereka.

Jika kemudian NU melalui Ansor dan Banser sudah bergerak mengangkat ‘ Katana’ nya artinya isyarat bangsa sedang terdzolimi. Benih radikalisme, bibit disintegrasi bangsa, sikap intoleran, ungkapan kebencian berjamur di mana-mana.

Bukan Banser jika hanya diam, mereka bergerak serentak menunjukan taringnya. Hal itu yang kemudian membuat orang yang membenci Pancasila dan memimpikan negara Islam merengek, lebih tepatnya mengembik. Mereka melancarkan gelombang Fitnah pada Banser, video dan beragam fitnah di lancarkan dengan masif.

Banser berjuang sendiri, dengan kesederhanaanya. Saya membayangkan saat orang seperti Kang Nen membubarkan konvoi khilafah mungkin di kantungnya hanya ada dua batang rokok dan uang untuk beberapa liter bensin, tapi untuk Indonesia kang Nen melakukan dengan gembira.

Ancaman terhadap NKRI sudah begitu nyata, kelompok radikalis dann pro khilafah telah masuk dengan masif hingga sekolah menengah, saat ini Banserlah pilar yang tersisa ketika gelombang virus radikalisme menyerbu negeri ini. Menyatukan kelompok pro Khilafah ini dengan NU, rasanya tidak mungkin.

Keislaman NU berakar pada tradisi, sedang mereka beragama dengan insting menaklukan. Satunya-satunya jalan negara harus memilih, NU yang telah terbukti komitmennya atau mereka yang ingin mengganti ideologi negara.

Berharap anak anak muda NU untuk mundur mengalah, tidak ada cerita Banser mundur perang. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah gambaran keberanian Banser. Dan pada masa ini FPI dan HTI lahir saja belum.

Namun membiarkan Banser berjuang sendiri rasanya tidak bijak. Kita harus hadir berdiri bersama mereka. Kita tidak ingin adegan terakhir dalam film the last Samurai terjadi.

Teringat sebuah adegan dalam Film itu saat Nathan algreen memberikan Katana dari klan Samurai Katsumoto yang gugur dimedan perang. Pada saat menerima Katana itu Kaisar baru menyadari bahwa pemerintah telah mengorbankan hal paling berharga dari bangsanya yaitu akar budayanya sendiri. Kita tidak ingin menitikan air mata saat menyaksikan katana ‘Banser’ Samurai terakhir penjaga bangsa ini di serahkan.

Saatnya kita berdiri bersama Banser ikut menjaga bangsa ini melawan radikalisme dan intoleransi. Membantu sebisa kita jangan biarkan Banser sendiri, bergandengan tangan nengucapkan kalimat Kaisar dalam film the last samurai

“We can be modern country, we are wearing western clothes, we have railway, but we cannot forget WHO WE ARE.” Kang Nen, salam hangat secangkir Kopi untukmu. (Teguh.K)

Sumber: kordinat.net

Comments

comments