Bangsa ini harus belajar Memaafkan

516

Oleh : Ramlan Maulana

Dalam sebuah perenungan tiba tiba saya diingatkan kepada sebuah Peristiwa yang dialami junjunan Rosulullah SAW ketika beliau berdakwah di Thaif untuk mengislamkan bani Tsaqif kala itu. Dalam kondisi beliau diangkat derajatnya oleh Allah, SWT sebagai Nabi Rosul dan panutan umat, beliau justru diuji dengan dihinakan oleh bani tsaqif yang menurut kacamata kita mereka adalah kelompok orang penyembah latta uzza penentang Tuhan, kaum musyrikin yang -kalau menurut nafsu kita- halal darahnya. Ia bukan hanya dihinakan tapi juga lebih dari itu, ia dilempari oleh bani Tsaqif dengan penuh cacian dan makian sampai gigi rosul pun tanggal dan tubuhnya luka luka berlumuran darah akibat dari lemparan tersebut, sampai sampai Jibril sebagai malaikatpun marah dibuatnya dan menawarkan kepada Rosul satu balasan hebat yaitu dengan membalikan bumi tempat mereka berpijak supaya mereka tenggelam di perut bumi terdalam.
Akan tetapi apa jawaban Rosul ketika mendapat tawaran itu? Beliau justru “MEMAAFKAN” dan bahkan mendoakan semoga mereka diberikan taufiq dan hidayah serta rahmat Allah dengan diampuni segala dosanya. Luar biasa, sosok panutan kita ini, betapa lapang dadanya, lembut hatinya, halus perangainya.
Bagi kita sebagai umatnya, mendapati cerita tentang peristiwa tersebut sangatlah marah, jengkel, bahkan tersinggung atas penghinaan tersebut walaupun hanya sekedar mendengar atau membaca riwayatnya saja. Rasa keberislaman kita seolah terinjak injak, nurani iman kita tercabik-cabik hingga menyisakan amarah. Belum punah lah kira kira rasa marah itu kalau belum mencincang bani Tsaqif terdebut.
Peristiwa di atas terjadi hampir empat belas abad yang lalu tapi setiap saya mengingatnya setiap itu pula muncul pertanyaan emosional saya “kenapa Rosul malah Memaafkan”.
Kemarin di tanah ini, di bumi Indonesia ini, saya merasakan perasaan yang sama lagi seperti perasaan diatas, sy marah, jengkel, merasa terinjak injak, terhina, rasa keberIslaman saya tercabik cabik, sampai dengan tidak sadar saya menelpon banyak kawan, membroad cast banyak percakapan, menyebar banyak himbauan, tentang sikap sepantasnya yang harus dilakukan. Ya, tepatnya kemarin ketika Kiyai saya, ulama saya, panutan saya di Nahdlatul Ulama dihina, direndahkan, diancam, dan seolah dipermalukan oleh sekelompok yang mengatas namakan kepentingan.
Beliau adalah KH. Maruf Amin Rois aam PBNU yang juga ketua MUI, seorang ulama karismatik yang merupakan cucunya Syekh Nawawi Al-Bantani. Saya selaku Nahdliyin dan selaku santri yang selalu diajarkan untuk selalu menjaga muruah ulama NU sampai titik darah penghabisan, mendapati kiyai saya diperlakukan seperti itu ingin rasanya membalas perlakuan tersebut dengan balasan setimpal.
Namun demikian seperti dugaan awal, bahwa beliau merupakan ulama besar pewaris para Nabi dan pengamal ahlaq Rosulullah, SAW, yang akan melakukan hal yang sama seperti ketika Rosul memaafkan Bani Tsaqif, demikian pula KH. Maruf Amin, beliau telah memaafkan kelompok yang telah menghina dan merendahkannya dengan penuh kebijaksanaan. Luar biasa, ahlaq beliau, kelembutannya, kerendahan hatinya, telah meluluhkan amarah saya, bahkan mungkin amarah santri santri yang lain yang seperti saya, walaupun dihati saya masih tersimpan tanya kenapa mesti dimaafkan.
Rupanya memang, sekali lagi Rosul dan bahkan KH. Maruf Amin dalam hal ini sedang mengajarkan dan mendidik bangsa ini agar pintar pintar lah untuk “MEMAAFKAN”. Kalau setiap orang di negri ini lebih mengedepan kan Ishlah Bainanaas, maka sesungguhnya pertikaian, penghujatan, adu domba, kekerasan, penghasutan, dan sebagainya tidak akan terjadi di bangsa ini. Biarlah hukum yang berlaku, karena sejatinya negara kita adalah negara hukum.
Ada kepentingan yang lebih besar yang harus dibela di atas sekedar amarah dan dendam, yaitu, keutuhan NKRI dalam bingkai kebinekaan dan ketunggal ikaan, yang sejak lama sudah menjadi kesepakatan para ulama dan para pendiri bangsa ini. Sekali lagi bangsa ini harus belajar untuk “MEMAAFKAN”. wallahu A’lam.

penulis adalah wakil sekretaris PW GP ANSOR JABAR

Comments

comments