BAHAYA AKSI ATAS NAMA AL-QURAN

621

Oleh : Kurnia P. Kusumah*

Mari kita membaca kembali sejarah peperangan Jamal Dan Siffin (657M). Perang saudara sesama muslim pertama, firqah-firqah dlm Islam dimulai. Saya kira bisa menjadi kacamata aksi 4 Nov 2016. Mereka yang merasa jihad dijalan Allah sesungguhnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Sayidina Ali Bin Abi Thalib adalah sahabat nabi yang paling mulia setelah Abu Bakar, Umar, dan Utsman; tidak ada yang lain, itulah khullafa rashidin. Bahkan, Rosulullah SAW pernah mengatakan:” jika aku ilmu seisi kota, maka Ali pintu gerbangnya”.

Setelah kematian Utsman, seharusnya giliran Sahabat Ali yang menjadi khalifah. Tapi kenyataannya tidak mulus. Pembai’atan Ali ditentang oleh Muawwiyah dan Siti Aisyah. Muawwiyah yg saudara sepupu Utsman, dan gubernur Syam itu menolak Ali jadi Khalifah, bahkan memerangi Ali karena minta dilaksanakan qisas segera atas kematian Utsman.

Begitupula Siti Aisyah tidak mengakui kekhalifahan Ali sampai berani memerangi Sayidina Ali dalam perang Jamal. Tuntutan Aisyah sama dengan Muawwiyah, minta diadakan qisas sebelum bai’at, (atau tidak mau mem bai’at Ali-pen). Bayangkan, Muawwiyah tidak mau membaiat sebelum qisas. Apa ini? Ini mengada-ada. Qisas itu alasan yang dibuat-buat supaya Ali tidak segera jadi khalifah.

Qisas adalah hukum yang bisa dilaksanakan ketika ada khalifah yang depinitif. Logikanya, ayam melahirkan telor; bentuk kekhalifahan dulu, baru hukum dijalankan. Logika Muawwiyah dibalik; ingin telor dulu baru diadakan ayam; hukum dulu ditegakan, baru dibentuk kekhalifahan. Sebagaimana pesan Al-Quran harus qisas; permintaan orang bodoh, atau pura2 bodoh?

Menurut saya Qisas tidak wajib segera dilaksanakan, pelaksanaannya bisa ditunda. Ali tidak bisa memenuhi permintaan Muawwiyah, karena mencari pembunuh Utsman sulit; Ali butuh legitimasi dan stabilitas politik lebih dulu; kemudian hukum baru ditegakan. Muawwiyah tetap menuntut qisas.

Begitulah terus sampai menemui jalan buntu. Pecahlah perang Siffin pada 21 Juli 657 M. Singkat cerita, Muawwiyah terdesak hampir kalah; maka atas akal bulus panglima perangnya, Amr Bin Ash pasukan Muawwiyah mengangkat Mushaf Al-Quran tinggi-tinggi dengan tombaknya bermaksud memecah kekuatan pasukan Ali. Al-Quran diperalat untuk menjatuhkan lawan. Dan benar saja, pasukan Ali terpecah dua karena sebagian pasukan terpukau oleh acungan AlQuran. Mereka terpesona oleh AlQuran dan meminta Ali berhenti menyerang karena ada Al Quran yang dimuliakan. Sebagian pasukan Ali berseru ” Kami menyambut seruan al-Quran”. Tapi Ali berteriak;

 

“يا عباد الله ! امضواعلى حقكم وقتال عدوكم فان معاوية وابن أبي معيط حبيبا وابن أبي سرح والضحاك ليسوا باصحاب دين ولا قران انا اعرف بهم، صحبتهم اطفالا ورجالا فكانواشرا اطفال وشر رجال. ويحكم والله ما رفعوها الا مكيدة وخديعة”

 

“Wahai Hamba Allah, rebut hak kalian, perangi musuh-musuh kalian. Muawiyah, Ibn Abi Muith, Habib, Ibn Abi Sarah, Dohak bukan orang “beragama” bukan pula ahli al-Quran, aku sangat mengenal mereka. Aku berkawan saat kanak-kanak dan setelah dewasa, mereka seburuk-buruknya anak kecil dan seburuk-buruknya orang dewasa. Demi Allah seruan mereka untuk “kembali pada Al-Quran” hanya tipu daya dan kelicikan semata-mata. (Lihat Tarikh Ibn Khaldun, Dar Turats Ihya Arabi, Jilid II, Hal 508-529)

Dalam pandangan kelompok ini, Ali telah melecehkan Alquran; telah menistakan Alquran karena menyuruh memerangi orang-orang yang memuliakan Al-Quran. Kemudian kelompok ini berbalik membangkang kepada Ali. Konon kelompok ini disebut khawarij. Khawarij artinya hengkang atau keluar dari barisan; karena lebih memilih Al-Quran daripada perintah perang pemimpin Ali. Muawwiyah akhirnya berhasil merebut kekhalifahan dari Ali dengan tipudaya melalui Tahkim, yaitu moratorium kekuasaan, kocok ulang. Aturan Tahkim, kedua kubu harus meletakan jabatan dulu biar vakum, kemudian diadakan pemilihan; dari kelompok Ali diutus Abu Musa Al Asy’ari yang jujur dan tidak cerdik dalalm politik, dan dari kelompok Muawwiyah diutus Amr Bin Ash yang dikenal licik dan cerdik dalam politik.

Sejak saat itu Muawwiyah kemudian mengisi lembaran sejarah keislaman sebagai khalifah dari kalangan Bani Umayah dengan kekerasan, diplomasi dan tipu daya. Muawwiyah membentuk pemerintahan Imperium turun-temurun, dia sendiri tampil sebagai raja pertama yang suka hidup bermewah-mewah. Dia sendiri mengistilahkan jabatannya sebagai khalifatullah,atau khalifah yang diangkat Allah.

Pernah Abu Bakar menegur gubernur Muawwiyah dalam perkara ini, agar jangan hidup berlebihan dalam kekayaan. Muawwiyah memberi alasan; supaya keislaman tidak diremehkan kaum kafir. Muawwiyah bersandar kepada harta dan kekayaan dalam menegakan kewibawaan Islam, bukan bersandar kepada ajaran Alquran atas keikhlasan, kesederhanaan, dan kejujuran. Bisa dipahami, pada abad berikutnya, penaklukan Islam terhadap negara-negara Eropa oleh Bani Umayah telah membuahkan kejayaan dalam ilmu pengetahuan, salah satunya imperium Andalusia, Spanyol yang dikuasai selama 5 abad (900-1492).

Namun, keislaman Bani Umayah adalah keislaman yang dilandaskan pada kekuasaan politik semata, maju dalam ilmu pengetahuan tapi kering dalam akhlak. Bahkan, ada beberapa rezim Bani Umayah ditenggarai suka pesta minum arak, hidup bermewah-mewah. Keislaman Spanyol adalah islam yang rapuh, tidak melekat dihati sanubari rakyatnya; bekas kejayaan Islam Spanyol hanya bisa dilihat dari bukti keindahan fisik arsitektur dan ilmu pengetahuan, tapi rakyatnya sekarang sudah melupakan nilai-nilai ajaran Islam.

Benar ramalan Rosulullah SAW, Ali akan diikuti oleh 3 kelompok; sekelompok yang sangat membenci, sekelompok yang sangat mencintai, dan sekelompok mencintai karena Allah. Kelompok sangat membenci kita ketahui adalah khawarij; kelompok sangat mencintai adalah kelompok syiah, dan kelompok yang mencintai karena Allah adalah kaum Ahlussunah Wal Jamaah.

Dari sejarah diatas, saya berpendapat bagi siapapun yang menolak seruan pemimpinnya dan lebih memilih ajakan kelompok lain dapat digolongkan khawarij; biarpun dengan alasan “demi membela Islam”; karena “Alquran telah dinistakan”. Mereka mengira merapat ke panggilan Al-Quran dengan meninggalkan pemimpinnya, sebagai jalan jihad di jalan Allah. Perhatikan dialog berikut:

Kaum khawarij mengatakan; ” bagaimana mungkin seruan kembali kepada Alquran kami tolak” Sayidina Ali berseru;”kita memerangi mereka supaya mereka berpegang kepada Alquran, selama ini mereka menelantarkannya”. Padahal taat kepada pemimpin terkandung didalam Alquran, surat An-Nisa (4) 59,” Hai orang-orang beriman taatilah Allah, dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri diantaramu”.

Ayat tersebut tidak menyebutkan perintah taat setelah Allah dan Rasul adalah taat kepada “Alquran”, melainkan harus taat kepada pemimpin. Siapa yang dimaksud ulil amri dalam surat An Nisa tersebut? Dalam hidup bernegara tidak lain adalah pemerintah yang sah, dalam hidup keislaman tidak lain adalah ketua-ketua organisasi Islam yang senafas dan sehaluan. Jika ingin membela Islam sebagai wujud kecintaan kepada Allah, demi menegakan kalimatillah, karena merasa kehormatan telah diinjak-injak, dan karena itu mengorganisir diri melakulan perlawanan, maka harus atas seizin dan seruan pemimpin sehaluan dikelompok tersebut.

Yang dimaksud bukan MUI, karena didalam MUI terdapat bermacam-macam haluan. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah dan RasulNya dalam sebuah gerakan masa yang terorganisir, harus atas seizin pemimpin yang sehaluan. Jika nyelonong tanpa permisi kepada pemimpin, apalagi pemimpin secara terang-terangan melarang untuk aksi, maka mereka masuk kategori pembangkang; seperti khawarij. Wallahualam Bi Sowwab.

* Penulis adalah Pegiat Grup Diskusi Ikatan Keluarga Alumni PMII (IKA PMII) Jawa Barat. Pernah menjadi Ketua PMII Korcab Jabar 1987-1989 dan Ketua DPW Sarbumusi Jabar 2005-2007. Oleh Kadernya biasa dipanggil Kang Udeng.

 

comments