ANARKI DAN RADIKALISASI ANAK STM DALAM AKSI

ANARKI DAN RADIKALISASI ANAK STM DALAM AKSI

Semalaman suntuk membahas perihal mengapa anak-anak STM terlibat dalam aksi yang dilakukan oleh Mahasiswa secara serentak ini. Banyak teori-teori bermunculan, dan yang mendominasi adalah teori tentang adanya the invisible hand dalam pergerakan anak-anak STM tersebut. Mulailah pembahasan kami kepada siapa kiranya the invisible hand? Dugaan muncul dari mulai kubu oposisi, keluarga cendana hingga sampai adanya pertarungan ditubuh koalisi pemerintah sendiri. Dugaan teori itu dibubuhkan dengan dalil juga dalih dari masing-masing pembicara.

Namun, saya punya analisa lain dibalik itu. Saya tidak terlalu tertarik membahas siapa the Invisible Hand. Saya teringat saat mengikuti mata kuliah Sosiologi Agama, dosen sempat membahas Hakim Bey, seorang Penggiat Anarkis Amerika yang terkenal dengan teori Zona Otonom Sementara. Dimana menurut pemilik nama asli Peter Lamborn Wilson ini bahwa anarkisme mengartikulasikan tatanan sosial di mana tidak seorang pun bisa menindas atau mengekspolitasi orang lain; sebuah tatanan dimana setiap orang mempunyai kesempatan yang setara untuk mencapai perkembangan material dan moralnya secara maksimal. Definisi tradisional tentang anarkisme seperti yang ditunjukkan di atas, harus dipahami sebagai sebuah titik tolak, suatu artikulasi untuk merespon secara positif konteks suatu tatanan masyarakat di mana minoritas masyarakat (yang memegang otoritas dalam institusi negara, institusi agama, institusi pendidikan, institusi ekonomi dan beragam institusi elitis lainnya) memiliki wewenang untuk mengontrol beragam aspek kehidupan mayoritas masyarakat.

Visi-visi anarki tersebut adalah ideal-ideal yang kemudian harus dijelaskan sebagai kemungkinan dan potensi eksistensi umat manusia. Pada perkembangan selanjutnya, melalui beragam re-interpretasi, kita menemui beragam artikulasi anarki yang menekankan pada kontinuitas perjuangan yang tanpa batas untuk memperluas lingkup kebebasan, yang secara konsisten didasari pada:

Pertama, penentangan terhadap otoritas. Pada umumnya penentangan anarkis terhadap otoritas dikaitkan pada penentangannya terhadap institusi negara dan institusi agama. Namun penentangan anarkis terhadap otoritas adalah suatu penolakan terhadap keterasingan manusia (yang diatur oleh otoritas tersebut) terhadap kemampuan, potensi dan hasrat/ kehendak manusia itu). Maka penolakan terhadap keterasingan ini juga mencakup penolakan terhadap segala bentuk otoritas yang tidak dapat dilegitimasikan dengan alasan rasional, termasuk bentuk-bentuk kepemimpinan (Pemerintah) dan perwakilan (DPR).

Meskipun pada dasarnya anarki menentang otoritas, tentunya terjadi pengecualian-pengecualian dalam kondisi-kondisi kritis ketika kepemimpinan dan perwakilan yang bersifat temporer tidak dapat dihindari.

Kedua, pada konstruksi relasi-relasi manusia berdasarkan asosiasi bebas. Anarki bukan sekedar suatu proposisi negatif yang berkutat pada penolakan, tapi juga menggagas konstruksi relasi manusia yang lebih membebaskan. Elaborasi tentang konstruksi relasi sosial adalah perbedaan mendasar dalam konteks anarki dengan aliran-aliran politik lainnya. Proyek-proyek anarkis selalu menekankan pada relasi horizontal di antara para partisipannya, penekanan pada inisiatif individual dan pengembangan potensi individual. Anarki yang terbatas dalam ruang dan waktu, diaplikasikan dalam proyek-proyek anarkis dimana cara untuk mencapai tujuan anarki menjadi terintegrasi dalam konteks-konteks tersebut.

Di sini pentingnya memaknai anarki, secara berbeda dengan isme-isme lainnya. saya tegaskan bahwa menurut hakim bey anarki menolak doktrin absolut (otoritas pemegang tampuk kekuasaan).

Keikutsertaan anak-anak STM dalam aksi beberapa hari ini bisa kita lihat dengan Zona Otonomi Temporer milik Hakim Bey. Kita harus melepaskan pemikiran kita bahwa mereka adalah aktor yang tiba-tiba saja datang dari dunia bebas tegangan politik. Karena bagaimanapun mereka adalah circle dalam kebijakan doktrin absolut.

Tudingan bahwa mereka tidak tahu isu, tak paham esensi dan lain-lain. itu sangat mengerdilkan ketertindasan keseharian mereka.

Bahwa yang sebenarnya terjadi mungkin mereka ditindas oleh sistem pendidikan, budaya perundungan, kompetisi jalanan, keluarga, lingkungan, agama, dan yang tidak juga ketinggalan adalah kemiskinan. Karena di strata sosial, STM identik dengan masyarakat kelas bawah.

Jadi alasan mereka tawuran, saling pukul, baku hantam dan lain sebagainya, adalah sebuah perwujudan dari pelarian atau perlawanan mereka terhadap sistem dan nilai yang menindas tadi. Jalanan menjadi sebuah ruang temporer untuk melampiaskan kebebasan mereka. Mereka mengekspresikan kebebasannya untuk lepas dari struktur tegangan yang sehari-hari menindas mereka.

Lalu muncul sebuah pertanyaan, apakah mereka salah? Mereka itu adalah korban struktur yang menindas. Kalo mereka melawan balik, itu adalah hal yang sangat wajar. Masalah yang muncul adalah perlawanan mereka dianggap tidak cocok dengan standar “perlawanan” yang diyakini masyarakat. Bahkan beberapa aktivis menolak kehadiran mereka di panggung aksi beberapa hari-hari ini.

Padahal mereka turun dengan aspirasi mereka sendiri yang tidak muncul di poster-poster aksi atau ruang debat televisi. Sekali lagi jangan bilang mereka tidak paham akan isu. Karena bagaimanapun mereka akan bersikap bodo amat dengan isu. Mereka tidak peduli dengan standar moral masyarakat kebanyakan, yang tidak lain adalah sudah menjadi sumber penindasan yang mereka alami.

Mereka tidak peduli dengan tudingan ditunggangi atau mungkin dianggap menodai aksi. Mereka tidak akan melirik saling klaim antara buzzer pemerintah dan aktivis soal tunggang-menunggang aksi. Bagi mereka jalanan adalah ruang kebebasan. Meski hanya sementara, namun sekali lagi jalanan adalah panggung mereka berekspresi.

Bagi mereka disini saya bisa head to head dengan polisi, yang mungkin bagi mereka setiap hari meneror mereka di jalanan. Di sini mereka bisa bakar pos polisi, jebol pager DPR dan tindakan anarkis-anarkis lainnya. Setelah itu mereka pulang ke rumah atau sekolah, dan kemudian mereka terkurung kembali.

Jadi tidak usahlah menambah beban penindasan yang mereka alami sehari-hari, dengan standar demonstrasi yang santun ala negara polisi. Mereka sudah punya cara sendiri yang mungkin sulit dipahami oleh para orang tua atau yang lebih dewasa dari mereka. Bagaimana menanggapinya? Tidak usah terlalu khawatir, aksi ini hanya temporer. Lebih baik kita fokus kepada mengatasi kekerasan negara yang setiap hari meneror warga.

Selain itu, satu lagi alasan kenapa kita tidak perlu menceramahi soal aksi anarkis. Karena percuma kalian hanya akan wasting time, buang-buang energi memberikan pemahaman tentang aksi mereka. Mereka juga akan bersikal bodo amat.

Balik lagi soal Temporary Autonomous Zone (TAZ). Kenapa aparat tidak bisa membendung anak-anak STM ini? Selain karena mungkin polisi tidak memiliki SOP menghadapi anak di bawah umur, mereka juga tidak bisa dihentikan, karena saking meleburnya kelompok ini. Tidak ada koordinator lapangan, tidak ada pemimpin, tidak ada tim kajian strategis, tidak ada grup sweeping. Mereka bergerak serentak seperti lebah yang sedang menyerang. Mereka sangat-sangat independent, muncul karena persamaan senasib-seperjuangan. Kuncinya hanya satu, solidaritas.

Anak-anak STM tidak bisa dihentikan karena tidak ada organisasi yang menaungi mereka. Mereka bergerak mandiri, secara individual, dengan kepentingan yang hampir-hampir sama. Mereka bergabung dalam satu ruang yang bernama Asosiasi Bebas.

Azizian
Kader GP Ansor Kabupaten Bogor

comments