Agamaku Bukan Agama “Pendendam” (Bagian 2)

83

Oleh: Vinanda Febriani

Sekali lagi aku merasa heran kepada sekelompok oknum yang mengaku “beragama” namun ia malah berperilaku layaknya orang tak beragama. Mereka mengaku punya Tuhan, namun mereka mendzalimi makhluk ciptaan-Nya. Hanya karena permasalahan sepele saja, hingga berani mengolok, mencaci, memaki, menfitnah bahkan mengkafirkan sesama saudaranya. Tidakkah semua manusia diciptakan memiliki hati nurani?. Lalu, dimana hati nurani mereka?.

Ya Tuhanku
Miris rasanya

Mengaku beragama, namun tidak mengindahkan tatanan agama itu sendiri. Apa jadinya?. Selalu menebar propaganda dan adu domba atasnama agama demi merebut nikmatnya jabatan tinggi yang sementara. Berlagak seperti pahlawan, kesana-kemari mengatasnamakan kepercayaan, namun sama sekali tidak mempunyai jiwa kemanusiaan.

Jabatan dengan cara itukah yang dicari?.
Sungguh betapa dzalimnya mereka. Masih banyak cara yang bijak untuk mendapatkan jabatan dunia ini, bukan dengan menebar propaganda dan adu domba yang mengatasnamakan agama, padahal agama tidak mengajarkan demikian.

Sejauh ini yang aku kenal, tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan keburukan. Pada dasarnya semua agama menginginkan pemeluknya menjadi seorang beragama yang berilmu, berakhlak dan berperikemanusiaan. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk mengolok, mencaci-memaki, bahkan menfitnah atau membunuh manusia lain tanpa sebab jelas yang juga dibenarkan dalam agama itu.

Sungguh, semakin hari orang semakin berpandangan sempit mengenai apa itu “agama”. Hanya bermodal belajar agama secara tekstual, otodidak tanpa guru yang berilmu, namun malah dijadikan panutan dan guru. Lah, mau jadi apa nanti generasimu?.

Tindak teror dimana-mana, seakan itu adalah sebuah perjuangan “Jihad” yang benar dalam agama, menurut mereka. Namun percayalah, tidak ada agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk meneror sesama manusia. Itu hanyalah hayalan orang gila yang tergila-gila dengan hayalan mereka tentang surga dan 72 bidadari hayalannya.

Permusuhan dimana mana, tidak sepemikiran sedikit saja langsung dicaci, dimaki, di hina dengan sombongnya. Itukah ajaran agama yang mereka terima selama di dunia?.

Banyak guru yang bisa di jadikan suri tauladan, malah di tinggalkan. Sedang guru yang hanya berlagak sok-sok an, malah dijadikan panutan. Lah, terus bagaimana jika di mintai pertanggungjawaban?, berlagak umroh padahal nyatanya lari dari kenyataan. Ah, sungguh tidak berperikemanusiaan. Punya umat malah ditinggalkan. Saat senang umat dilupakan, sedang saat dirinya susah saja umat yang dilibatkan dan disalahkan. Apa apaan ini?.

Merasa paling suci, sampai memaafkan orang saja rasanya tak sudi. Di dalam lubuk hatinya terselip rasa dengki dan iri. Sukanya mencaci maki, tebar fitnah dan propaganda kesana kemari, giliran tercyduk malah nangis di hadapan polisi.

Miris rasanya.

Hey, dengarlah sekali lagi
Agamaku ini agama yang santun, Ia menuntun dan merangkul, bukan memukul.
Agamaku ini bersahabat dengan siapa saja yang menganggapnya sebagai sahabat.
Agamaku ini bukan agama pendendam, ia bersahaja, bermartabat, saling memaafkan dan berperikemanusiaan.
Agamaku ini bukan agama pendendam, yang selalu kau gunakan untuk dalih utama dalam merebut kekuasaan dan jabatan.

Agamaku ini agama damai, bukan agama pendendam.

Vinanda Febriani. Borobudur, 23 November 2017.

Comments

comments