Afi Nihaya, antara Plagiasi dan Menerjang Bahaya

181

Oleh: Aziz ian
Kader GP Ansor Kabupaten Bogor

Afi Nihaya Faradisa, atau yang akrab disapa afi ini menjadi buah bibir dalam beberapa pekan ini, anak perempuan yang menjadi Viral karena beberapa postingannya berisi tentang pola keberagaman dalam beragama.

Tulisan-tulisan Afi memang sangat menentang Radikalisme dan mencoba mengurai benang kusut toleransi, yang akhirnya beberapa kelompok dan ormas merasa tertampar dengan tulisan anak usia belasan tersebut. Jika melihat komentar-komentar yang muncul di salah satu postingan Afi sangatlah naif masyarakat Indonesia saat ini dalam menggunakan Social Media, bahkan tak sedikitpula yang melabeli Afi dengan sebutan Kafir, Antek Yahudi, Agitator, dan pula Misionaris. Sangat lucu memang.

Dan kini ada beberapa pihak yang coba mencari fakta terkait plagiasi tulisannya.

Bukti-bukti Afi Nihaya Faradisa Ternyata Seorang Plagiat Bikin Heboh, Simak Berikut Ini

Tapi bagi anak seusia Afi, mau cuplik atau plagiasi tulisan siapapun ia tetaplah seorang anak remaja yang sedang mencari jati diri dalam menilai sebuah Kebenaran dan Afi telah menemukan satu posisi nalar Kebenaran yang cukup diterima oleh banyak orang. Terlebih kelompok yang mengusung keberagaman dan Toleransi dalam beragama juga bernegara.

Bagi anak remaja seusia Afi, terlepas plagiasi atau cuplik tulisan, tetap ia telah menempatkan sebuah cara posisi pikir (how to think) yang berpengaruh. Sehingga Afi adalah asset berharga bagi Negara yang kedepannya akan menjadi Pemimpin yang dapat mempengaruhi para Anggota nya. (The leader is people who can influence the other people).

Bagi anak remaja seusia Afi dan masih sekolah wajar jika ia masih meniru orang lain untuk melihat posisi pikirnya. Karena proses imitasi masih berlanjut dan Afi perlu untuk mencari harus berada dimana dan kepada siapa proses pikirnya akan berlabuh. Karena entah ke depannya akankah Afi masih sama dengan Afi yang kita kenal sekarang. Karena proses adaptasi lingkungan sekitar masih sangat kental ada dalam alur hidup seorang Anak usia Remaja yang bernama Afi ini.

Yang tidak wajar jika kita berbicara plagiaisasi adalah ketika seorang sarjana mendapatkan huruf tambahan di belakang namanya dengan cara tersebut. Tapi pada titik tertentu, malah lebih mengerikan lagi jika mereka yang sarjana gandrung menjadi penikmat berita Hoax bahkan juga menebar berita Hoax dan provokasi di tengah Masyarakat yang kini makin sulit menerima sebuah berita yang valid. Harusnya para Sarjana ini ikut andil dalam memberantas berita-berita Hoax bukan malah menyebarluaskannya dan merasa bangga ketika ikut bagian dalam praktek Hoax tersebut.

Afi memang harus jujur dan bertanggung jawab jika suatu saat nanti memang terbukti plagiasi atau cuplik tulisan orang lain di media sosial. Namun, jika tidak terbukti, si penuduh harus bertanggung jawab karena telah fitnah seorang anak yang sedang mencari jati diri. Namun kiranya wajar saja bahwa ketika ada tulisan siapa saja diposting di medsos itu adalah milik netizen. Dan tak ada larangan menyebarluaskan tulisan tersebut bahkan jika harus sampai di copy-paste pun.

Afi seorang anak perempuan dari seorang ayah yang berprofesi sebagai tukang cilok ini telah menempatkan diri pada posisi nalar yang sejuk pada gelanggang kehidupan di Negara yang sangat majemuk ini. Walaupun jika nanti memang terbukti plagiasi, tetap ia punya posisi diri untuk mengidolakan perdamaian dari referensi tokoh-tokoh yang ia cuplik tulisannya. Dan Afi akan tumbuh berkembang mengikuti jejak para pemikir yang menurutnya tepat bagi perdamaian di Indonesia.

Lain halnya lagi jika terjadi kasus ada oknum tertentu yang memanfaatkan Afi untuk diviralkan tulisannya, agar pertanda bahwa ada anak SMA yang peduli pada perdamaian dan memberikan kesejukan. Hal itu bukan tak lain adalah untuk melawan pihak yang selama ini mereka tuduh sebagai orang dewasa yang pemarah dan selalu menebar provokasi.

Tidak perlu disetting, apalagi menempatkan seorang anak jadi antek atau boneka untuk memuaskan hasrat kelompok tertentu dalam melawan kelompok yang dimusuhinya. Bayangkan jika Afi tahu ia dimanfaatkan pihak tertentu untuk kepentingan politisnya, tentu itu akan mengganggu perkembangan psikologis dan sosialnya ke depannya.

Sehingga mari kita rawat dan jaga para Afi-Afi berikutnya sehingga akan muncul regenerasi yang baik yang bisa menyempurnakan kesalahan-kesalahan para pendahulu nya (baca senior). Dan sebagai pendahulu mereka, kita patut malu jika sampai pada usia ini kita masih saling hujat salah-menyalahkan tanpa bisa memberi problem solving dalam mengurai benang kusut yang bernama Toleransi dan Perdamaian

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5

Comments

comments