Ada Masalah dengan Poligami?

247

Ada Masalah dengan Poligami?

Pembacaan saya soal polemik ustadz Arifin yang dapat ilham untuk berpoligami, bukan terfokus pada poligami sebagai sunnah Rasul atau kaitan mampu tidaknya berbuat adil. Sebab, bila harus dipandang sebagai ittiba’ sunnah Rasul, maka adab an-Nikah yang ditempuh paling tidak mendekati apa yang dilakukan Rosul itu sendiri. Kedua, ketidakmungkinan sifat al-‘Adalah menempel pada diri manusia selain Rosululloh insan kamil panutan kita, itu pun dibantah dengan kekeliruan pemaknaan atas kitab suci.

Alih-alih memamerkan ketauladanan dalam berpoligami, yang muncul ke permukaan tidak lebih mencerminkan bagaimana hebatnya tipu daya iblis menggoda jiwa manusia, dan kemudian menjadi point of view tulisan ini.

Iblis sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir dari ibnu Abbas pada awalnya merupakan golongan malaikat penjaga surga, namun berbeda dalam penciptaannya. Malaikat Alloh ciptakan dari nur, sedangkan iblis atau juga disebut bangsa jin tercipta dari ujung api yang menyala lagi sangat panas. Ia adalah makhluk Alloh yang mula-mula menghuni bumi, lalu mereka membuat kerusakan, mengalirkan darah dan saling membunuh antara satu sama lain dengan keji.

Makhluk unik ini Alloh usir dari surga lantaran sifat takabburnya yang luar biasa. Sifat ini tergambar jelas dalam firman-Nya tentang penciptaan manusia. “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka bersujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan mereka yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah: 34).

Ayat ini menggambarkan tanda kemuliaan dari Allah kepada Adam (manusia) hingga Allah pun memerintahkan para malaikat untuk “bersujud” (dibaca; memuliakan dan mengagungkan) kepada Adam termasuk di dalamnya jin. Maka mereka semua sujud, kecuali iblis. Ia membangkang dan tinggi diri seraya berkata, “Aku tak mau sujud, karena aku lebih baik dan kuat daripada dia. Setelah iblis menolak sujud kepada Adam, maka Allah menjauhkannya dari rahmat Alloh, seluruh kebaikan dan menjadikannya sebagai setan yang terkutuk sebagai hukuman atas kedurhakaannya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa iblis dikenal dengan nama `Azazil, termasuk golongan malaikat yang sangat cerdas, kuat dalam berijtihad dan banyak ilmunya. Karena itulah ia memiliki banyak tipu muslihat untuk menggoda manusia. Dia tahu persis siapa lawannya dan dengan cara apa meluluhkan hatinya. Artinya, semakin tinggi maqom manusia secara spiritualitas, maka iblis penggodanya pun memiliki kekuatan yang sama.

Selain cerdas, Iblis juga makhluk yang sabar, tidak tergesa-gesa, kreatif, dan pantang menyerah. Ia selalu berusaha menggoda manusia sebagai bentuk balas dendam kepada Adam dari segala penjuru (depan, belakang, kanan dan kiri), mampu memanipulasi objek dan menyamarkannya. Nyaris tak terbedakan mana yang hak dan yang bathil.

Iblis menggoda manusia secara bertahap agar manusia benar-benar terseret untuk mengikutinya. Mula-mula ia membius manusia dengan bisikan al-Waswasah untuk membolak-balikan dan menggiurkan hati bagaikan suara gemericik emas, mengajak manusia kepada kenikmatan-kenikmatan atau bahkan kepada sesuatu yang melewati batas larangan Allah.

Kemudian bisikan ini menjelma menjadi al-Hamazah, yakni rayuan penjurusan atau semacam ‘drive’ yang menggerakkan kecenderungan perilaku sampai kemudian perilaku yang dikehendaki iblis benar-benar dilakukan manusia. Pada tahap ini, manusia akan tergelincir atau al-Isti’zal dari jalan kebenaran atau kepatutan secara umum. Lagi, lagi dan lagi, maka upaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman iblis pun menjadi sangatlah sulit, karena iblis telah menguasai jiwanya. “Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah’ (Q.S. Al-Mujadalah: 19).

Akibatnya, hati ini pun sibuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya atau bahkan menutupinya dengan perilaku lain yang tekesan positif. Meminjam istilah Freud, melakukan pembentukan reaksi sebagai usaha untuk menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya terjadi serta menampilkan wajah yang berlawanan dari ekspresi wajah yang sebenarnya.

Jelas, tak ada pembenaran atas poligami model ini, melainkan hawa nafsu. Semoga Alloh senantiasa melindungi kita dari godaan syaitan yang mengombang-ambing hati dan pikiran, mengecoh kita dari cenderung kepada agama yang hak, menyesatkan jalan kebaikan, menyeru kepada perbuatan jahat dan keji tanpa didasari pengetahuan. Amien.

#Wallohu ‘alam bi as-Shawab

Oleh : Murtadlo Imam, S.Psi
(Departemen ideologi dan Kajian Strategis PC GP ANSOR kab. Cirebon)

Comments

comments