IPNU-CBP sebagai Wahana Ajang Bela Negara

34

OLEH : Dian As’ad Mulyana (Komandan CBP PC IPNU Kabupaten Bogor)

Alur perjalanan pergerakan perjuangan untuk mencapai Kemerdekaan bangsa Indonesia pada awal abad 20 bisa kita bagi menjadi 3 kelompok. Pertama, kelompok Tradisional yang dipimpin oleh para ulama-ulama Pesantren dan tokoh agama. Kedua, kelompok Pelajar Sekolah berfaham Nasionalis. Ketiga, kelompok Pelajar Sekolah yang berfaham Sosialis.

Untuk dua kelompok terakhir tersebut semua terpengaruh dengan gejolak yang terjadi di dunia Barat seperti yang kita ketahui muncul karena meletusnya Perang Dunia ke-II antara dua Negara adidaya, yaitu Amerika dan Unisoviet (sekarang: Rusia). Namun untuk kelompok pertama merupakan kelompok yang sudah mengakar dan tumbuh berkembang di bumi Nusantara ini jauh sebelum abad 20.

Seiring perjalanan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1920-an, gejolak politik juga terjadi di tanah Arab antara kelompok wahabi sebagai pemberontak dari pemerintahan resmi yang berpaham Ahlusunnah wal Jama’ah ‘ala Manhaj Asy’ariyah wal Maturidiyah pimpinan Sultan Syarif Husein, yang kemudian akhirnya pada tahun 1924 jatuh ke tangan kelompok pemberontak Wahabi pimpinan Abdul Aziz bin Saud, ini cukup berpengaruh kepada dunia, khususnya Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia, yang juga pada saat bersamaan sedang berupaya memperjuangkan kemerdekaannya.

Pasca peristiwa tersebut, tersebarlah berita penguasa baru yang akan melarang semua bentuk amaliyah keagamaan ala kaum Sunni yang pada saat itu memang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun di Tanah Arab dan akan menggantinya dengan model Wahabi.

Praktik agama sistem bermadzhab, ziarah kubur, tawasul, maulid nabi dan sebagainya secepatnya akan segera dilarang. Tidak hanya itu saja, Raja Ibnu Saud juga menginginkan supaya melebarkan daerah kekuasaannya sampai ke seluruh dunia Islam.

Dengan dalil demi kejayaan Islam, ia berencana untuk meneruskan kekhilafahan Islam yang telah terputus di Turki pasca runtuhnya Daulah Bani Utsmaniyah. Untuk itu, Raja Ibnu Saud berencana menggelar Muktamar Khilafah yang ada di Kota Suci Makkah sebagai penerus Khilafah yang terputus tersebut.

Semua negara Islam di dunia akan diundang untuk menghadiri acara muktamar, tidak terkecuali Indonesia yang sudah menjadi Negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di Dunia. Awalnya, utusan yang di percaya yaitu HOS Cokroaminoto dari Serikat Islam, KH. Mas Mansur dari Muhammadiyah serta KH. Abdul Wahab hasbullah mewakili Pondok Pesantren.

Akan tetapi, rupanya ada sedikit permainan “licik” di antara kelompok yang mengusung para calon utusan Indonesia. Sebab Kiai Wahab tidak mewakili organisasi resmi, maka nama beliau kemudian dicoret dari daftar calon utusan.

Peristiwa tersebut akhirnya menyadarkan para ulama-ulama Nusantara yang mukim di tanah Arab juga ulama-ulama Nusantara yang menjadi pengasuh pesantren akan pentingnya sebuah organisasi. Sekaligus menyisakan sakit hati yang mendalam, sebab tidak ada lagi yang bisa dititipi sikap keberatan akan semua rencana Raja Ibnu Saud yang bertujuan akan mengubah model beragama di Makkah.

Para ulama pesantren tentu tidak terima akan kebijakan Raja yang anti kebebasan bermadzhab, anti ziarah makam, anti maulid nabi dan lain sebagainya. Bahkan, sempat terdengar pula berita bahwa makam Nabi Agung Muhammad SAW berencana untuk digusur.

Menurut para kiai pesantren, pembaruan adalah suatu keharusan. KH. Hasyim Asy’ari juga tidak mempersoalkan dan bisa menerima gagasan para kaum modernis supaya menghimbau umat Islam kembali pada ajaran yang ‘murni’. Namun, Kiai Hasyim tidak bisa menerima jika pemikiran mereka meminta umat Islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab.

Di samping itu, ide pembaruan yang dilakukan dengan cara melecehkan, merendahkan serta membodoh-bodohkan, maka para ulama’ pesantren menolaknya.

Menurut mereka, pembaruan akan tetap dibutuhkan, namun tidak dengan khazanah keilmuan yang sudah ada dan masih bersangkutan. Karena kondisi itulah maka Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ didirikan.

Pendiri resmi Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ sendiri tak lain adalah Hadratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sedangkan yang bertindak sebagai arsitek sekaligus motor penggerak yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. kiai Wahab ini adalah salah satu santri utama Kiai Hasyim.

Namun dalam perjalanannya banyak rintangan dan cobaan yang harus di hadapi, karena tidak bisa dipungkiri pada saat itu banyak yang berbeda faham dan pandangan dengan ulama ulama NU, yang kemungkinan ikut terpengaruh dengan peristiwa yang terjadi di tanah Arab.

Sehingga dalam perjalanannya perjuangan merebut Kemerdekaan Republik Indonesia ini selain berhadapan dengan bangsa Asing sebagai Penjajah, di dalam negeri sendiri harus menghadapi pergerakan pergerakan yang bertentangan faham seperti gerakan DI/TII Kartosuwiryo dan PKI-nya Muso yang merupakan hasil dari perkembangan kelompok-kelompok terpelajar (Sekolah/Akademisi) yang berpaham sosialis komunis.

Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, bibit-bibit perbedaan faham itu tetap ada walaupun sudah di berantas, terutama sekali dari kelompok sosialis  komunis hingga terjadi gerakan di tahun 1965 yang dinamakan dengan gerakan G30SPKI.

Untuk kelompok Islam yang berbeda faham seperti kelompok DI/TII, dalam perjalanannya mereka sepertinya sangat hati-hati, pola yang mereka pakai mereka rubah dengan cara yang berbeda beda. Dan sepertinya cara mereka cukup berhasil hingga sekarang, apalagi setelah terjadi perkembangan gejolak di jazirah Arab yang terus menerus tidak berhenti dan melahirkan faham-faham yang lebih radikal, dan ini cukup mempengaruhi pola pikir dan pandangan dari masyarakat Indonesia secara umum, karna hasil propaganda-propoganda mereka melalui media yang semakin berkembang.

Jadi jelas kita sebagai bangsa yang ingin memelihara keutuhan NKRI harus lebih cerdas dan cermat dalam menyikapi persoalan-persoalan yang ada di Negeri yang kita cinta ini. Senantiasa menjadi roda penggerak untuk mensosialisasikan sebuah kebenaran yang kini amat sangat terpendam dalam jutaan situs-situs Hoax, propoganda golongan yang ingin menghancurkan NKRI. Bagi kita rakyat Indonesia, harus terus mengepalkan tangan dan berteriak NKRI Harga Mati.

Walhasil, kader bungsu Nahdhatul Ulama lewat IPNU dengan CBP nya dan IPPNU dengan KPP harus bisa menjadi agent of change di kalangan pelajar pada umumnya dan sekolah tempat mereka belajar pada khususnya. Harus terus belajar dan belajar guna menyerap informasi-informasi yang baru yang ada di sekitar lingkungan kita.

Selaku adik bungsu maka seharusnya kita bertanya kepada kakak juga orang tua kita tatkala ada sesuatu yang sekiranya ingin merobek-robek tenun kebangsaan. Saling bekerjasama dengan mereka untuk menjaga keutuhan NKRI demi terwujudnya Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Lantang, Keluarkan dan berteriaklah bahwa NKRI ini Harga Mati

Comments

comments